Mengapa perlu 7 hari untuk sertifikasi Licensed NLP Practitioner?

Karena banyak yang ingin tahu mengapa diperlukan waktu 7 hari untuk belajarNLP sehingga dapat disertifikasi sebagai Licensed NLP Practitioner, maka artikel ini ditulis di Blog ini, supaya tidak perlu membahas berkali-kali dan dapat dijadikan salah bahan pertimbangan pemikiran.

Tulisan ini murni membahas mengenai bagaimana kami melakukan pelatihan Licensed NLP Practitioner, dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan bagaimana orang lain melakukannya. Sebab, tentunya setiap orang memiliki caranya sendiri-sendiri. Saya menghargai setiap approach, tentunya punya dasar pemikiran sendiri-sendiri yang berbeda. Tulisan ini adalah bertujuan untuk memaparkan metodology dan jumlah waktu yang kami lakukan dalam pelatihan Licensed NLP Practitioner, sekaligus menjawab rasa ingin tahu dari orang-orang yang terus menanyakan kepada kami. Simple saja, akan terlihat bahwa waktu 7 hari dalam pelatihan Licensed NLP Practitioner bukanlah di ada-adakan, atau dibuat sengaja dilama-lamakan. Setiap menit demikian berharga, tidak ada yang tersia-siakan. Pada saat Anda memahami ilustrasi perhitungan metodology dan sistematika, Anda akan bisa menilai, bahwa tidak ada waktu yang terbuang percuma.

Sudah dimahfumi dari namanya, bagi kami Pelatihan Licensed NLP Practitioner adalah pelatihan menjadi praktisi, yakni untuk membuat seorang menjadi mampu mempraktekkan. Tentunya bagi kami tidak cukup hanya membuat peserta MENGERTI mengenai NLP, namun harus menguasai ketrampilan-ketrampilan standart, teknik-teknik, konsep NLP, dan memiliki kemampuan untuk MEMANFAATKAN-nya secara tepat dan benar.

Diawal perkembangannya, Sertifikasi NLP diajarkan oleh Richard Bandler dan John Grinder dengan format 21 hari. Waktu itu, karena masih menggunakan teknik mengajar yang tersedia waktu itu, dan untuk memenuhi syarat minimal standardisasi waktu pelaksanaan suatu sertifikasi di USA waktu itu. Seiring dengan proses modeling yang kian mengental, dan ditemukannya berbagai teknik mengajar ala NLP yang lebih canggih, maka pelatihan bisa diringkas menjadi 7 hari. Bisa dibayangkan, meringkas 21 hari menjadi 7 hari rasanya sudah sedemikian bombastis ya, bahkan nyaris sulit dipercaya…

Proses meringkas waktu pelatihan NLP yang dilakukan oleh Richard secara luar biasa ini, dideskripsikan oleh Paul McKenna (salah satu Licensed Master Trainer NLP) sebagai berikut:

So we decided to start again from “a clean slate” – reconstruct how to deliver the practitioner, remove some of the “mistakes of personal history” which Richard speaks about but most importantly to ensure that the material is delivered using the best methods and latest applications of NLP technology available.

 

ESENSI TRAINING ADALAH MENGURAIKAN KATA BENDA MENJADI ‘PROSES ASLINYA’

Sewaktu Richard dan John memodel tokoh-tokoh ekselen seperti Virginia Satir dan Milton Erickson, kedua tokoh yang dimodel itu senantiasa menekankan pentingnya rapport dalam proses terapi. Sayangnya, Satir dan Erickson tidak pernah menjelaskan BAGAIMANA tepatnya PROSES mendapatkan rapport, dan bagaimana kita mengetahui apakah kondisi rapport sudah diperoleh. Rapport adalah kata benda abstrak (nominalisasi), untuk bisa melakukannya kita perlu menguraikan bagaimana prosesnya untuk sampai pada kondisi rapport itu.

Menjelaskan pada orang Jakarta dimana letak kota Bandung, seperti apa kondisi kota Bandung, tidak serta merta membuat orang itu sampai ke kota Bandung.  Perlu dijelaskan jalan mana yang musti ditempuh, alias proses bagaimana agar orang itu sampai ke sana. Bahkan jika perlu diajari secara langsung langkah demi langkahnya. Misal beli tiket kereta dimana, bagaimana caranya, bagaimana menggunakan tiket itu, seperti apa suasana kereta, bagaimana setelah keluar dari stasiun dan seterusnya.

Richard dan John, dalam memodel kedua tokoh itu, mereka ini melakukan proses analisis dan kemudian menemukan elemen-elemen dasar behavior, serta bagaimana elemen itu dilakukan secara berurutan. Disusunlah menjadi suatu model yang komprehensif dan integratif, yang sekarang dikenal sebagai istilah modeling dalam NLP.

Akibat proses modeling ini, saat ini kita jadi tahu cara meniru suatu keunggulan dengan cara menyamakan tindakan elementer dan proses urutannya sehingga sampai kesana. Misal, saat akan membangun rapport, sekarang kita tahu,  bahwa kegiatan rapport itu esensinya adalah membangun “kesamaan”. Dimana setelah terjadi kesamaan maka kedua belah pihak akan mengalami “in sync” alias sinkron. Kesamaan bisa dibangun melalui urutan proses menyamakan beberapa hal: fisiologi: yang dilakukan dengan proses mirroring, cross mirroring, dan matching. Kesamaan juga bisa dilakukan di level Model Dunia, seperti menyamakan belief, value, predikat, metaprogram, dan lain-lain. Demikian pula menyamakan di level micro behavior, seperti micro muscle mirroring, menamakan nafas, menyamakan kedipan mata, dan seterusnya.

Nah, disinilah…. Dalam sebuah training, ketika saya akan megajarkan rapport, maka saya tidak cukup hanya mengatakan “Kita harus membangun rapport dengan Klien”, dan lantas saya merasa telah cukup mengajarkan mengenai cara mendapatkan dan membangun rapport. Sudah jelas khan, kami perlu membimbing trainee mempelajari elemen-elemen prilaku dan urut-urutan proses untuk membawa pada ketrampilan rapport sehingga bisa mempraktekkannya.

Sip markosip, well mardowell, good marsigood, top markotop!

Dari penjelasan diatas, sekarang kita sudah sama-sama tahu, bahwa bahkan hanya untuk mengajarkan satu kata : “Rapport” saja, diperlukan kira-kira berapa lama untuk menguasainya? Apakah cukup 15 menit? Mari kita lihat…

 

GAMBAR LEBIH BESAR

Semua sudah tahu, di pelatihan Licensed NLP Practitioner dipelajari berbagai hal, mulai dari konsep dasar, sikap ideal, alat-alat modeling elementer (tools) dan berbagai teknik-teknik siap pakai.

Nah, kita mau menghitung waktu nih, misalkan hanya menghitung waktu untuk belajar TEKNIK siap pakainya saja. Biasanya, di dalam standart pelatihan Licensed NLP Practitioner diajarkan 8 teknik: Belief Change Patterns, Fast Phobia Cure,  Circle of Excellence, Swish Pattern, Visual Squash Pattern, 6 Steps Reframing (Parts Integration), Disney’s Strategies, dan dan Time Line Application. Ya khan?

Oke, yuk kita hitung, berapa waktu dibutuhkan untuk menjelaskan masing-masing teknik ini sehingga orang MAMPU mempraktekkannya dengan benar dan tepat? 5 menit? 10 menit? 1 jam?

Bagaimana kalau kita menggunakan pola pikir seorang Licensed NLP Trainer untuk mengetahui hal itu? Di tangan Trainer yang benar-benar tersertifikasi dan menguasai teknik pengajaran conscious-unconscious, pola-pola NLP diajarkan melalui sistematika yang hati-hati disusun, melibatkan framing materi yang menyeluruh dari materi, demonstrasi suatu tools dan teknik secara akurat, latihan yang diawasi dan umpan balik serta sesi diskusi.

Intinya, ia akan membuka kanal pikiran peserta dengan format urutan pemikiran yang disebut sebagai Bernice McCarthy 4-Mat System. Dimulai dengan urutan  Why dan What yang akan dituangkan dalam langkah pertama yakni Framing.

Pertama ia akan melakukan framing untuk memberikan dasar-dasar yang kuat, kenapa teknik ini perlu dipelajari dan dikuasai. Ia akan menjelaskan dengan mengawali melalui  mungkin kisah nested loop, stacking reality atau barangkali sekedar suatu metafora sehari-hari yang biasa saja. Ini penting, agar terjadi proses instalasi bawah sadar, untuk membuat bawah sadar memiliki pemicu otomatis, sehingga di kemudian hari saat diperlukan oleh Praktisi itu, maka teknik ini nantinya dapat muncul otomatis ke permukaan.

Framing ini juga akan memberikan suatu konteks di level “What?”, dengan memberikan suatu batu pijakan, agar di neurological level si trainee memiliki landasan di level realitas: baik level Environment, Level Behavior, maupun level Capability.

Well, berapa lama waktu yang dibutuhkan trainer untuk itu ya?

Langkah Kedua, trainer akan memberikan suatu demonstrasi bagaimana teknik ini dilakukan. Mulai dari memilih siapa subject (trainee) yang paling tepat untuk melakukan demonstrasi. Men-setting situasi demo, mengajukan pertanyaan tertentu untuk mempresisikan hasil, menunjukkan dengan baik bagaimana teknik dilakukan, memastikan langkah dilakukan dengan benar, menggunakan language pattern yang memberdayakan, dan melakukan suatu future pacing dan kemudian menunjukkan suatu langkah exit yang ekologis. Dalam 4-mat system ini disebut sebagai “How”.

Kemudian jika diperlukan, ia akan melakukan Postframing, untuk membingkai ulang demo tadi, sehingga menjadi benar-benar proporsional dan tepat. Ingat, kadang-kadang suatu demo, tidak berjalan secara “bersih”, karena ternyata “problem” yang dialami oleh si Klien cukup rumit, sehingga harus ada ‘langkah ekstra’. Nah, si Trainer, perlu bisa membersihkan kejelasan ‘langkah ekstra’ ini dalam post-framing.

Well berapa lama seluruh waktu yang dibutuhkan ya?

Langkah ketiga, agar proses how bisa menjadi masuk di level “muscle awareness” ataupun “muscle memory”, maka ia akan meminta peserta untuk mempraktekkannya. Kadang, ia akan mendisain suatu bentuk latihan ‘dyad’ (bergantian berdua), atau ‘triad’ (bergantian bertiga, dimana salah satu menjadi Meta Person), sehingga ketiga Perceptual Position menjadi dialami oleh setiap diri peserta. Tiap trainer berlisensi pasti tahu, beberapa hal yang menjadi pertimbangan pemilihan metode ini.

Well, melalui supervisi langsung berkeliling ataupun menggunakan peripheral vision, maka si Trainer akan mengawasi berlangsungnya kegiatan latihan ini. Kadang, trainer akan mengaktifkan suatu kondisi yang disebut “Speed Down – Time Distortion”, dimana ia memprogram dirinya agar masuk dalam Deep Trance Phenomena secara waking, sehingga ia merasa akan mengalami semua hal secara laaaaambaaaat. Dalam kondisi ini, setiap hal bisa dimonitor dengan mudah. Teknik ini dapat dipelajari dengan mudah di pelatihan Licensed Master Practitioner of NLP.

Menggunakan ketrampilan DHE (Design Human Engineering) yang sudah dipelajarinya, ia akan membuat catatan dalam halusinasinya, diletakkan di lokasi tertentu dari grid mentalnya dia. Sehingga ia punya catatan apa saja yang pelu dibahas dalam sesi tanya jawab dan feedback nantinya.

Wow, berapa lama dibutuhkan dalam proses ini semua?

Setelah itu di langkah ke 4 , ia akan membuka kanal tanya jawab, memenuhi format terakhir yang disebut Mc Carty sebagai “What If”. Peserta diberikan pancingan untuk bertanya, dan jawaban diberikan dengan meng-address neurological level secara cerdas.

Sebelum si trainer menjawab, ia akan mencermati banyak hal dari behavior si penanya, beberapa diantaranya adalah: apa belief yang mendasari pertanyaan itu, presuposisi apa yang ada di balik pertanyaan, apa intensi positif dari pertanyaan itu, pelanggaran metamodel apa yang dilakukan (untuk tahu model dunia dan limitasi diri apa yang terjadi), berada di Neuro Logical Level mana isi pertanyaan itu, dan apa Outcome si penanya. Tentunya tidak usah dikatakan lagi, ia akan mencermati body languagenya, eye eccesing cues, predicate, metaprogram dan lain-lainnya, Anda mungkin sudah tahu hal yang ini juga khan…

Berdasarkan peta situasi diatas, si trainer akan menjawab pertanyaan si trainee. Dan tentunya sebelumnya si Trainer sudah menginstall ‘state of patience’ yang luar biasa… Barulah jawaban diucapkan, dengan suatu niat  untuk menyampaikan dalam kondisi clean language, atau sebaliknya, justru ia akan menutilisasi jawaban dengan cara di frame dengan pola bahasa tertentu untuk outcome tertentu.

Well, berapa banyak pertanyaan akan muncul dan berapa lama ya diperlukan waktu untuk menjawab?

Seringkali, sesuai tujuan dari pelatihan praktisi, maka akan diikuti langkah berikutnya untuk membangun konteks yang benar-benar kuat di level dunia riil, dengan cara memberikan kesempatan Elaborasi berbentuk diskusi kelompok untuk penerapan sehari-hari. Diskusi kelompok ini akan saling memperkaya pesertanya, jika misalkan sekelompok adalah 5 orang, maka akan muncul minimal 5 konteks yang berbeda dari tiap anggota kelompok ini sehingga menghasilkan insight-insight segar di masing-masing peserta. Jika masih ada waktu, diminta sharing di kelas, apakah ada hal/temuan menarik yang ditemukan dalam dalam diskusi kelompok.

Well, berapa waktu diperlukan untuk 5 orang memberikan pendapat dalam diskusi kelompok?

Nah, jadi melalui pengendapan tertentu saat pengalaman belajar di pelatihan Licensed NLP Practitioner di ruang pelatihan, melihat demo, mempraktekkan sendiri, mengajukan pertanyaan dan mendengarkan jawaban serta elaborasi, maka trainee memiliki waktu untuk menyelami lebih dalam suatu pola-pola yang mendasari, proses dan keterampilan NLP sehingga memiliki gambaran dan rencana penerapan diaplikasikan di dunia nyata.

Oke deh, yuk kita ringkas: Jadi tepatnya berapa waktu yang diperlukan untuk menguasai 8 Teknik NLP itu. Ingat, ini baru ngomongin Teknik saja, belum yang lain….

Berdasarkan pemaparan diatas tdak sulit Anda membayangkan bahwa dibutuhkan waktu sebagai berikut:

  • Framing : 5 – 15 menit.
  • Demo & post framing  : 15 – 30 menit
  • Latihan antar peserta : 30 menit (jika dyad), 45 menit (jika Triad)
  • Tanya Jawab : 15 – 30 menit
  • Elaborasi/Diskusi kelompok : 15 – 30 menit.

Well, jadi setiap satu Teknik memerlukan waktu sekitar 2 jam, sehingga peserta mendapatkan manfaat terbanyak dari pembelajaran. Dengan demikian, untuk menguasai & mampu mempraktekkan 8 teknik NLP, maka SUDAH diperlukan waktu 16 jam, alias 2 hari pelatihan (sehari 8 jam optimal). Nah, Anda pasti masih ingat, NLP Practitioner adalah pelatihan “menjadi praktisi” bukan pelatihan “menjadi mengerti”.

Lha, mungkin Anda jadi teringat dan bertanya-tanya sendiri… Apakah isi dari Pelatihan Licensed NLP Practitioner hanyalah pengajaran dari 8 teknik NLP saja?

 

RAHASIA DIBALIK TEKNIK NLP

Contoh perhitungan matematika diatas bisa dielaborasi lebih dalam, apakah hanya diperlukan 5 tahap itu saja, maka dipastikan suatu teknik aplikatif NLP sudah bisa dikuasai dengan mudah? Benarkah suatu teknik bisa dikuasai dengan baik dalam 2 jam dengan baik dan tepat?

Jawabnya tentu saja bisa!

Dan…. dengan catatan…

Jika elemen-elemen tools yang mendasari teknik juga sudah dikuasai dengan baik oleh si Praktisi.

Lho apa maksudnya?

Gini lho, manusia itu khan bukan benda mati. Bukan seperti tali rafia yang bisa dipotong-potong seenaknya, ditekak-tekuk, dilipat, di “untel-untel” sesuka kita. Varian yang muncul dalam suatu aplikasi teknik mental pada diri manusia bisa saja memenuhi suatu hitungan permutasi matematis yang dahsyat.

Permutasi Matematis?

Bingung?

Sabar dulu, bingung artinya pingin tahu tapi ilmu dan sumber daya belum cukup.

Ikuti saja dulu.

Mari kita simulasikan: Misal Anda dihadapan seorang trainer NLP, dan ia sedang mengajarkan satu Teknik Fast Phobia Cure. Apakah mengamati caranya, mendengarkan uraiannya, mencobanya dan berdiskusi sudah cukup menjadikannya bisa? Apakah tidak diperlukan berbagai prasyarat-prasyarat lain?

Meniru mentah-mentah apa yang dilakukan trainer saat mendemokan Teknik, hanya akan membatasi trainee dalam konteks apa yang dilihatnya dalam suatu demo saja. Nanti mampunya ya cuman itu.

Jadi apa sebenarnya prasyarat-prasyarat yang harus dimiliki oleh seorang praktisi supaya bisa mampu menjadi seorang “Wizard”? Nah, Anda perlu menguasai dasar-dasar modeling NLP dengan baik, sehingga saat belajar Teknik, semua jadi smooth….. Apa saja itu:

  • Saat belajar melakukan teknik tertentu, misal Fast Phobia Cue, maka ini mensyaratkan Anda mampu melakukan teknik membangun rapport dengan Klien, yang dibangun melalui teknik pacing, baik pacing fisiologis, pacing model dunia maupun pacing unconscious. Berapa waktu Anda perlukan untuk menguasai ketiga teknik pacing ini?
    • Pacing fisiologis, berarti Anda perlu menguasai dan berlatih mirroring, di level macro muscle. Berapa waktu yang Anda pelukan untuk menguasai ini semua?
    • Pacing unconscious, sebenarnya agar  bersinggungan dengan point diatas, namun yang dipacing adalah behavior yang lebih unconscious, seperti nafas, dan micro muscle movement.
    • Pacing model dunia, berarti Anda perlu menguasai dan berlatih mengenali berbagai “behavior structure” seperti Representational System (VAKOG), Preferred System, Predicate, >25 jenis submodalities, 10 jenis metaprogram,  dan lain-lain. Berapa waktu yang Anda pelukan untuk menguasai MASING-MASING ini semua?
  • Dalam membangun rapport dan melakukan pacing, maka Anda perlu mengerti kapan suatu tindakan Leading bisa mulai dilakukan, berarti Anda harus belajar teknik Kalibrasi. Yakni membaca/mengukur kondisi fisiologis untuk mengetahui dan mengukur kondisi internalnya. Mengerti ilmu kalibrasi, berarti bisa membaca macro and micro muscle movement, juga mempelajari Eye Accesing Cues. Apa pengetahuan yang harus Anda miliki mengenai kalibrasi? Berapa lamaya waktu yang diperlukan kita saat belajar kalibrasi?
  • Ohya, agar jago kalibrasi, Anda harus punya indera yang jeli, alias menigkatkan sensory acuity. Apa yang perlu Anda lakukan agar ketajaman indera Anda membaik, latihan apa yang perlu Anda kuasai? Berapa lama diperlukan untuk belajar latihan ini? Well, pastinya Anda bisa hitung sendiri waktunya, ingat Anda punya 5 indera…
  • Terkadang Kien datang dengan pola pikir yang amat tidak memberdayakan diri, maka Anda perlu mengemas ulang pola pikirnya agar lebih memberdayakan, maka Anda perlu belajar 2 teknik reframing: context dan content (meaning).
  • Well, ternyata mendengarkan kisah si Klien tidak langsung membuat  seorang praktisi langsung mengerti: dimana “letak masalahnya”? Maka Anda perlu menguasai ilmu yang disebut neuro-logical level (NLL). Dengan demikian, Anda langsung paham, dilevel mana suatu masalah itu berada, sehingga saat merencanakan intervensi kita tidak menembakkan amunisi ke lahan yang salah. Waduh, berapa lama waktu yang kita perlukanuntuk belajar praktek menggunakan NLL?
  • Kalau kondisi pikiran dan mental (mind) si Klien ternyata tidak tepat untuk melaksanakan suatu proses perubahan, maka kita perlu menghentikan proses mentalnya dengan teknik pattern interrupt, dan mengarahkan ke arah state of mind lain yang lebih memberdayakan. Proses mengarahkan dan membangkitkan state ini disebut  “state elicitation”. Jelas praktisioner perlu menguasai ini. Berapa lama ya diperlukan untuk belajar?
  • Yuk, lanjut. Kadang state tertentu yang sudah kita elicit itu, mungkin akan diperlukan lagi kelak. Hanya saja,  kita tidak mau buang-buang waktu lagi nanti kalau pas dipelukan harus mengulang semua proses membangkitkan ulang state ini. Nah, disini kita perlu belajar teknik memicu instan suatu state yang sudah pernah dibangkitkan. Yak benar, ilmunya namanya anchor dan anchoring. Bahkan perlu belajar ngutak atik anchor ini, mulai dari cara men-set anchor, cara mengubahknya melalui sistem geser (sliding), cara memperkuat dengan menumpuk-numpuk (layering / stacking), cara merusak suatu anchor (collapsing), dan lain-lain. Wiiiii, berapa lama waktunya yah, mempelajari skill ini agar mampu yah?
  • Nah, ternyata oh ternyata, saat mendengarkan si Klien menceritakan “problem”nya, kita juga bisa mengenali urutan-urutan proses mental yang dialaminya, dengan mendengarkan bagaimana urutan-urutan representational system yang dipergunakan, melalui penggunaan predikat dan gerakan mata (eye accesing cues) yang dilakukan oleh si Klien. Sistematika ini, di NLP disebut “strategy”, cara pengungkapannya disebut strategy elicitation. Nah, saat strategy si Klien sudah terelicit, sebenarnya kita menjadi mudah sekali mengenali bagaimana ‘struktur dan proses’ dari apa yang disebut suatu ‘problem’ oleh si Klien. Mengenali sistematika ini, memudahkan Anda untuk memutuskan, di tahap mana, suatu langkah akan di interupsi, di ubah arah, di reframe, di collaps anchor atau diapakan kek…?, sesuai dengan kepiawaian Anda dan outcome si Klien.
  • Eits tunggu dulu, kadang dalam mengelicit strategy si Klien itu, kita mendapati struktur yang lebih dalam dan elementer yang disebut dengan submodality. Misal kita mendengar kata: “Masalah saya berat sekali menimpa saya, seperti nempel di dada saya sulit untuk dilepaskan”. Jika si praktisi sudah menguasai submodality, maka ia tahu, ada indikasi elemen submodality apa disitu? Dan apa yang bisa dilakukan olehnya? Apakah ia akan mencari kontrasnya dengan membandingkan dengan emosi yang berlawawanan sehingga ketemu drivernya, ataukah ia akan mengutak-atik nilai dari submodality secara langsung, untuk melihat efeknya? Lha, berapa lama diperlukan untuk menguasai ilmu submodality dan kutak-kutiknya ini?
  • Jika masih terasa sulit, maka Praktisi akan mengeluarkan jurus Omni Directional Chunking (ODC) yang ia miliki, sehingga ia bisa mentracking logika yang dipakai oleh si Klien, dan bisa menggiringnya secara elegan. Berapa waktu yang diperlukan mempelajari sistem canggih ini?
  • Saat mempraktekkan ODC, maka ia akan mengenali saat Klien mengungkapkan “problemnya” secara tidak jelas, penggunaan bahasa-bahasa yang dipenuhi dengan distorsi, generalisasi dan penghapusan. Maka, ia akan melakukan proses pengumpulan informasi yag diperlukan dengan ilmu elegan Meta Model. Bahkan, kepiawaiannya, bisa menggunakan Meta Model sebagai tools untuk membantu mengendorkan Model Dunia Klien yang terbelenggu. Ada sekitar 13 varian pelanggaran Meta Model yang perlu dikenali dan diklarifikasi. Berapa waktu yang diperlukan untuk belajar ini? 13 Pola Pelanggaran Meta Model, Indikasi Pelanggaran, Challenge yang Anda ajukan, dan Respon yang boleh Anda harapkan untuk muncul.
  • Ohya, mustinya di bagian lebih awal saya sebutkan, bahwa seorang Praktisi perlu bisa mengungkapkan goal yang jelas dari si Klien, kenapa ia datang kepada Anda? Goal yang jelas ini disebut sebagai Wellformed Outcome. Jika Goal si Klien tidak jelas, maka Anda perlu melakukan proses information gathering dan klarifikasi dengan Meta Model tadi. Ada minimal 5 Kondisi yang diperlukan agar suatu goal memenuhi WFO. Ohya, WFO, juga bisa dipakai untuk membantu diri si Praktisi untuk membuat ia mencapai goal-goal pribadinya. Waaaah berapa lama lagi ini waktunya diperlukan untuk belajar dan menguasainya?
  • Mengawal suatu proses change work tidak boleh asal-asalan, praktisioner tidak boleh keliru dalam memberikan sugesti. Ingat, setiap kata yang dipilih, bisa memiliki efek sugestif. Keliru, bisa berakibat fatal… Nah, untuk itu, praktisi perlu menguasai ilmu linguistic berkekuatan sugestif, alias Hypnotic Language Pattern yang sering disebut sebagai Milton Model. Nah, ada berapa banyak Milton Model yang dipelajari dalam NLP Practitioner ini? Yang jelas, ada banyak: sebut saja semua gejala Meta Model jika dibalik maka menghasilkan efek sugestif, maka dari sini sudah disumbang 13 pola sugestif dengan melanggar Meta Model. Ditambah lagi pola-pola  Presuposisi Linguistik, ada sekitar 7. Indirect Elicitation Patterns ada sekitar 6 termasuk didalamnya ada 4 sub-pola ambigu, selain itu semua masih ditambah 2 pola metaforik. Jadi ada sekitar 32 pola Hypnotic Language Patterns, wiiiiiiiih berapa lama diperlukan seseorang untuk belajar menguasai dengan baik 32 Pola Hypnotic, mengerti, dan mampu menggunakannya?
  • Lanjut…. Ada lho, klien yang “problem”nya itu hidup di masa lalu, ada pula yang kesulitan menghayati masa kini, atau memiliki persoalan dengan masa depan, dan sebagainya. Dengan mengetahui cara seorang Klien mengelola waktu dalam pkirannya, akan mempermudah Praktisi dalam membantunya. Konsep ini dikenal dengan nama Time Line. Mempelajari cara mengelicit time line, cara menggunakan time line dalam intervensi, akan mempermudah praktisi untuk membantu seorang Klien keluar dari Problem atau mendapatkan kebahagiaan lebih dalam hidupnya. Berapa lama waktu diperlukan yah?
  • Masih sehubungan dengan konsep time line maka seorng praktisi akan memstikan agar suatu proses perubahan (yang memberdayakan) akan bisa secara otomatis terjadi dan teraktivasi di masa depan. Dengan menguasai teknik anchor yang dikombinasikan dengan teknik ‘future pacing’, maka hal ini bisa mudah dilalakukan.
  • Wah, kok sudah banyak… Padahal masih panjang nih… Baiklah, tambah satu ya…? Menguasai Presuposisi NLP! Pada saat seorang praktisi mengerti, dan bersedia mengakuisisi Presuposisi NLP sebagai suatu belief baginya, maka seluruh teknik dalam NLP menjadi gampang.. pang. pang… Ada 8 macam Presuposisi NLP yang paling mendasar. Berapa lama mengerti dan mengakuisisinya?

 

Ooooooh, jadi rupanya, untuk bisa menguasai 8 Teknik NLP yang diajarkan di Pelatihan Licensed NLP Practitioner, maka Anda otomatis dibantu untuk mempelajari pula seluruh point diatas sebagai prasyaratya? Berarti Pelatihan NLP Practitioner yang mengajarkan seluruh point di atas, adalah yang sedang melatih Anda menjadi modeler sejati. Anda tidak akan dibiarkan untuk sekedar ngerti Teknik NLP.

Lha, lantas berapa lama waktu total untuk mempelajari SEMUA hal di atas?

Nah, padahal masih banyak lagi yang belum sempat saya tuliskan disini lho…

Ha?

Memangnya masih banyak lagi yang perlu dikuasai agar  menguasai 8 teknik NLP bisa dikuasi dengan tepat?

Ya dong… Sebut saja: PS-DS, Associate-Dissociate, Analog Digital, Overlapping Predicate, Translating Predicate, TOTE, Positive Intention, Berbagai macam teknik Trance Work, Ideo Motor Signal, Deep Structure, Surface Structure, dll. Atau Anda lihat saja list berikut ini: Standar kualifikasi ketrampilan seorang praktisi NLP, biarlah istilah-istilahnya tetap saya tuliskan dalam bahasa Inggris:

  • Behavioral integration of the basic presuppositions of NLP:
  • Rapport Establishment & Maintenance
  • Verbal & Nonverbal Pacing & Leading
  • Verbal and Nonverbal Elicitation of Responses
  • Calibrating through Sensory Experience
  • Representational Systems (Sensory Predicates and Accessing Cues)
  • Milton Model, Meta Model
  • Elicitation of Well-Formed Goals, Direction, and Present State
  • Overlapping and Translating Representational Systems
  • Eliciting, Installing & Utilizing Anchors in all sensory systems
  • Ability To Shift Consciousness
  • Submodalities (utilizing including Timelines, Belief Change, Swish Patterns, etc.)
  • Omni Directional Chunking
  • Accessing and Building Resources
  • Content & Context Reframing
  • Creating & Utilizing Metaphors
  • Strategy Detection, Elicitation, Utilization, And Installation
  • Demonstration of Flexibility of Behavior and Attitude

Benar, untuk sekedar mengerti hal-hal itu secara garis besar, mungkin hanya dibutuhkan beberapa jam saja. Sedangkan untuk mampu mempraktekkan semua dan memanfaatkannya, tentunya harus dilatih dalam suasana kelas dan penuh supervisi dari trainer yang berpengalaman tinggi dan menguasai bidangnya. Mendapatkan feedback alias umpan balik yang proporsional dan tepat dan sebagainya.

Dari  beberapa kali mengikuti kelas NLP Practitioner di luar negeri, dari berbagai trainer yang mengusung NLP dengan berbeda approach, saya dapat merasakan bahwa 7 hari adalah jumlah yang paling pas untuk membuat peserta memiliki kesempatan belajar secara proporsional.

TEKNIK v.s. MODELING

Yang kadang tidak langsung disadari, namun dirasakan manfaatnya adalah: dengan melalui pembelajaran NLP selama 7 hari, dan mengusai seluruh “prasyarat-prasyarat” keahlian yang perlu dimiliki untuk menguasai suatu Teknik, maka Anda sudah belajar menjadi modeler. Yakni seseorang yang mampu untuk melakukan modeling suatu keunggulan.

Sejumlah detail diatas, yang saya label sementara dengan kata “prasyarat”, tidak lain tidak bukan adalah tools dalam NLP untuk melakukan modeling. Yakni elemen-elemen dasar dari suatu behavior, yang merupakan penyususn suatu prilaku. Ibarat dalam teknik memasak, maka point-point itu adalah seperti elemen kegiatan: belajar mengenali bahan, mengenali bumbu, jenis-jenis pisau, cara-cara mengiris, cara mencampur, cara menggoreng, cara menumis, cara menghidupkan kompor, dan lain-lain. Ingat, dalam suatu resep masakan, biasanya sudah diasumsikan bahwa Anda sudah menguasai prasyarat elemen itu: dianggap sudah bisa menghidupkan kompor, tahu jenis pisau, cara mengiris dan lain-lain.

Nah, sekarang semakin mudah dipahami, bahwa dalam mempersiapkan seorang trainee menjadi seorang Licensed NLP Practitioner, kami mengajarkannyatidak hanya teknik-teknik NLP siap pakai saja, namun Anda sedang disiapkan dan dilatih agar bisa mempraktekkan proses modeling. Misalkan, Anda melihat anak teman Anda kok jago matematika, maka melalui pengamatan, ngobrol, atau teknik-teknik lainnya, berbasis “prasyarat-prasyarat” diatas, Anda akan dapat mengenali bagaimana anak itu melakukan keunggulan dalam  matematika itu. Kemudian, Anda tinggal memodel dan menduplikasikan ke anak Anda sendiri. Menarik khan?

Semoga tulisan ini menjawab berbagai pertanyaan yang muncul dan rasa ingin tahu dari berbagai pihak, kenapa diperlukan waktu 7 hari untuk mensertifikasi Licensed NLP Practitioner.

Walaupun design pelatihan ini sudah dibuat dengan sangat baik dan penuh kehati-hatian, pelaksanaan  proses dilakukan dengan teknologi mental yang paling mutakhir, dan menjadikan setiap waktu dalam pelatihan Licensed NLP Practitioner ini demikian bernilai, kita semua tahu bahwa pada akhirnya tanggung jawab dari individu untuk terus mempraktekkannya yang akan membuatnya menjadi piawai. Poin utamanya adalah, setiap waktu dalam pelatihan sungguh bernilai, waktu 7 hari adalah demikian padat materi, tidak ada waktu terbuang percuma. Semua ketrampilan yang diajarkan adalah esensial dan tidak ada materi yang di ada-adakan biar kelihatan padat atau bagaimana.

Sangat sering kita mendengar peserta mengomentari  di hari ke 7 “Waaaah, kok rasanya cepat sekali yah? Rasanya baru kemarin pagi dimulai”. Itulah, tanda-tanda terjadinya time distortion, sesuatu yang asyik dan dinikmati, meskipun 7 hari, rasanya cuman sekejap. Anda bisa baca testimonias mereka di www.BelajarNLP.com

Jadi, setelah Anda tahu bahwa 7 hari adalah waktu yang benar-benar pas untuk belajarNLP dan menguasai prakteknya, so bergembiralah!….. Apabila saat ini Anda sudah mulai berkenalan dan bersentuhan dengan NLP:  Selamat! Sekarang Anda tahu, apa yang perlu dan baiknya Anda teruskan untuk belajar lebih lengkap menjadi Licensed NLP Practitioner.

Comments

  1. Kiki Aufa says

    Saat membaca artikel di atas, saya seperti sedang flashback kembali ke kelas NLP dan Master NLP Practitioner. Dan setelah selesai membaca, semakin yakin akan luar biasanya pemanfaatan NLP dalam kehidupan sehari-hari. Tq mas Ronny atas artikel tsb, yang seperti mesin waktu..dengan mudahnya membawa pikiran masuk dan keluar kembali dalam kelas pembelajaran NLP.

  2. says

    Waooowww…Ternyata ini yang membuat Licensed Practitioner of NLP by RonnyFR begitu Highly Recommended !! Hebat ..Hebat!! Pak RonnyFR sbg Licensed Trainer of NLP mau berbagi “jeroan”nya ttg proses denominalisasi dari kata PELATIHAN ala NLP adalah sebuah berkah…Sekali lagi HEBAT!! Buat Saya yg juga telah memutuskan sbg seorang trainer dan belajar lgsg dg Pak RonnyFR, tulisan diatas seolah membuka tabir ttg bagaimana menyelenggarakan sebuah pelatihan..bahkan pelatihan dg topik lain yg ingin di deliver dg gaya NLP… Hmm…Jadi tidak sabar di tahun 2012 lgsg mempraktekkan dengan tepat agar setiap pelatihan yang di selenggarakan berdampak hebat! Tks Pak atas ilmunya!

  3. says

    Mbak Kiki, thanks sudah mampir…
    Seperti kata Bandler, ada mesin waktu di pikiran kita, yang dapat kita utilisasi…
    Dengan metode training conscious – unconscious, maka segala sesuatu yang sudah ditrainingkan akan mudah dipicu kembali menggunakan pendekatan tertentu shingga serasa mengalami ulang…
    Selamat!

  4. says

    Pak Rizky, terima kasih atas kesediaan mampir…
    Berbagi memang senantiasa menyenangkan, dan artikel ini kita bagikan untuk mempermudah kawan-kawan menjelaskan Mengapa perlu waktu 7 hari untuk sertifikasi Licensed NLP Practitioner.

  5. ucok purba says

    dear Mas Ronny, terima kasih banyak sudah bersedia membuka rahasia trainer. Setelah membaca, kok saya jadinya malah merasa 7 hari sebenarnya kurang ya..? Dari tulisan tsb diatas, banyak hal yang menjadi semakin jelas bagi saya, khususnya dari sisi trainer. Dengan trainer attitute seperti diatas, saya yakin para pembelajar NLP akan memperoleh apa yang diidam-idamkan. Lebih dari itu, saya yakin pembelajar NLP mampu menjadikan dirinya bermanfa’at atas apa yang dipelajarinya.
    Semoga apa yang Mas Ronny sharing ini dapat diambil manfa’at bagi yg membacanya. Salam luar biasa dari Batam.

  6. says

    Tulisan yang sangat menarik dan sangat cerdas. saya setuju sekali, NLP menurut saya tidak dapat dipelajari dengan singkat. ini at least dari kacamata saya yang sudah belajar dengan beberapa orang. NLP bukanlah tools, kedalaman sebuah ilmu itu yang menurut saya menarik dan membuat saya mencari jauh lebih dalam lagi.
    sukses untuk mas Ronny.

  7. Prasetyanto says

    Wah, membaca tulisan mas Ronny, rasanya WOW. menyadarkanku bahwa banyak materi yang sudah diajarkan di kelas Practitioner dan Master.
    Kok rasanya training yg disusun selama 7 hari Pract & & 7 hari Master, menurut saya dirasakan kurang.
    Suasana belajar NLP yang Nyaman, Gembira dan Menyenangkan membuat mudah mengerti serta memahami apa yang diajarkan.
    NLP sangat mengasyikkan… jadi membuat semangat untuk sering sit in di setiap kelas training NLP untuk mencharge dan refresh ilmu NLP. Dan tentunya mengaplikasikan untuk kebaikan diri sendiri dan orang lain.

  8. Nining_Moor says

    mantaap..mas Ronny…mumtaz..excellent
    cara belajar yang menyenangkan<
    7 hari pun tak terasa lelahnya..padahal semua materi BERNAS isinya :)
    saluuut

  9. Zaenuddin says

    Pak Ronni, saya sangat tertarik dengan pelatihan NLP Practitioner dan berencana untuk ikut di batch yang berikutnya… hanya saja saya nol besar dalam hal nlp ataupun yang terkait dengan psikologi. kira-kira ada buku referensi atau apa yang mesti saya pelajari biar lebih cepat menguasai materi dan bisa jadi “practitioner”…. terima kasih.

  10. Happy Sola Gracia says

    Mas Ronny,
    Terimakasih sudah meluaskan pengetahuan saya dan mendalamkan pemahaman saya…
    sukses selalu mas Ronny, jaya selalu SLB heheheh

  11. Ocid says

    Benar-benar belajar NLP dengan cara NLP
    Dan BUKAN sekedar melihat Trainer-nya sedang show.
    Setiap dengar/membaca kata ‘Rapport’ saya selalu ingat Mas Ronny FR. Bahkan saat menerima Buku Rapport anak saya, hehehehe…
    Ya, karna Dia memang jagonya. dan jauh dari sekedar show.
    Doa selalu untukmu, Mas.

  12. iwan fakhruddin Purbalingga/ UMP Purwokerto says

    Kang Ronny…… dah 2 bulan ini saya kesengsem sama NLP. Banyak artikel NLP yang saya baca. Beberapa buku yang berbasis NLP juga saya baca. Dan saat-saat ini pengin sekali ikut pelatihan sama kang Ronny….. Kira-kira kapan Pelatihan NLP dilakukan di sekitar Purwokerto? Insyaallah saya akan ikut. Thanks. Salam Sukses Selalu

  13. Beta Sugiarso / Purwokerto says

    Pembelajaran yang saya sangat Akui manfaat besarnya tidak hanya membutuhkan pengetahuan dan ketrampilan secara sadar, tetapi juga sangat membutuhkan Uncounsious Installing seperti saya telah belajar dan mengikuti NLP sejak 2009 di Sinergi Lintas Batas dengan Pemahaman yang di tanam secara Uncounsious membuat sampai saat ini mampu melakukan berbagai tolls dengan attitude dan methodology yang tepat seperti yang saya pelajari Baik di kelas Practitioner maupun Master Practitioner. Terima kasih Pak Ronny FR

  14. Chairunnisa says

    Mas Ronny…

    Tiada kata yang TEPAT untuk mengomentari pelatihan NLP Practitionernya SLB. Apa yang dituliskan Mas Ronny, mengembalikan rekaman memory pada suasana di WS. Bila boleh berkata jujur waktunya berjalan serasa cepat sekali, sampai-sampai TRANCE. Waktu training hanya sampai jam 5, tapi FAKTAnya PARA TRAINEE baru keluar dari kelas di jam 20.00 bahkan pernah sampai jam 21.00. Menandakan waktunya kurang bukan? Terimakasih Mas Ronny telah membuka pemahaman saya bahwa NLP itu MUDAH dan MEMUDAHKAN…

  15. arif santoso says

    Seneng sekali membaca artikel ini terutama tentang pentahapannya. Saya belum pernah ikut di mas Ronny, krn waktu di surabaya 2009, saya gagal ikut. Akhirnya ketemu yang “sesuai” dengan kondisi saya saat itu. Semoga denga artikel ini semakin memompa semangat saya untuk menjadikan NLP hidup dalam diri saya.

  16. says

    Trainning selama 7 hari tersebut apakah selalu diadakan diJakarta? Apakah pernah diadakan di Surabaya, klo belum pernah semoga ada agenda untuk mengadakan trainning tersebut di Surabaya…Terima kasih

  17. Y. Subiyanto HS says

    Trainningnya cukuplah 7 hari, mabuk ntar. Latihanannya, prakteknya, sebaiknya tiap hari. Baca ulasan para pakar dan praktisi juga wajib tiap hari. Yang tidak cerdas saja bisa, apalagi yang muda, cerdas, dan semangat. Pasti hebat.

  18. says

    wah, mas ronny, sy pun jadi terhipnotis nih buat ikutan training NLP for practitioner,
    trus… trus gimana ya pelatihan lokasi bandung ada ngga nih 2014 january / february?

Leave a Reply