Pengalaman adalah SELALU merupakan guru yang terbaik

Pengalaman adalah SELALU merupakan guru yang terbaik, apakah kita sudah siap menjadi murid yang baik?

Tulisan ini adalah awalnya adalah merupakan jawaban atas pertanyaan / komentar di artikel saya yang berjudul “Apakah NLP itu?”, oleh Mbak “Ratu Pantai Selatan”. Wiiiii, sebuah nama yang menggetarkan orang Yogyakarta pada umumnya. Pada saat saya menjawab saya mendapati diri saya terhanyut dengan mengetikkan tulisan yang demikian panjang dan asyik, sehingga saya memilih untuk memindahkannya sebagai artikel, tentunya atas ijin si Penanya.

Untuk Mbak Ratu Pantai Selatan, sebelumnya saya mengucapkan terima kasih atas kepercayaannya ber-curhat pada saya… Aneh, saya merasa dada saya berdegup kencang, saat membaca email Anda…, sungguh sebuah “ketukan hati” yang luar biasa dari seorang yang belum saya kenal sebelumnya. Salam kenal dari saya Mbak…

Sebelum saya lanjutkan artikel ini, maka berikut ini kutipan pertanyaan Mbak ‘Ratu Pantai Selatan’ secara komplit :

ratupantaiselatan Says: August 7th, 2008 at 6:46 pm

allow mas ronny…. pertama kali mengenal NLP ketika saya lahir didunia…ketika saya menggunakan tangisan saya untuk membuat semua orang yang mendengarnya tersenyum dan bergumam kecil, membathin bahagia dan seribu ungkapan bahagia lainnya… hore!!! aku sudah berhasil mendapatkan perhatian mereka… dalam menjalani hidup pun tanda sadar kita sebenernya sudah ber NLP ria, ketika kita tahu teman kita tidak mengatakan yang sebenarnya dengan menelan ludah, atau tanpa harus bapak kita mengatakan kalau beliau tidak suka dengan apa yang kita lakukan, kadang kita tahu dan urung meneruskannya…

mas Ronny yang terhormat… saya ga tahu pada siapa saya emsti curhat hal ini…. jujur belakangan ini ketika metodologi, tehnik NLP mulai merebak, saya sedikit merasa prihatin dengan fenomena yang saya alami, dengar , rasakan dan lihat. memang tidak semua, namun beberapa orang yang saya tahu dan kenal, setelah belajar NLP kok jadi berubah ya…?

berubah yang akan saya curhatkan malam ini adalah berubah yang bisa ber efek ketidak baikkan buat diri mereka sendiri. memang sih bukan urusan saya, cuman saya prihatin aja… kenapa yah mereka menganggap NLP seolah seperti senjata paling pamungkas dalam hidup ini, sehingga membuat mereka seolah juga jadi “keblinger”=”sombong” merasa paling hebat…. paling keren…. paling tahu cara hidup…. (kebanyakan dari mereka adalah trainer atau “merasa dirinya trainer saya juga ga tahu) saya ga tahu pasti itu disadari atau enggak….karena saya memang bukan cacing yang hidup di perut mereka..hehehehhe…

walopun saya ga tahu banyak NLP, NLp adalah attitude..(koreksi saya kalo salah ya mas) mereka sering berbicara didepan atau menulis didepan publik, dengan menganggap materi, metode, trainer lain lebih tidak bermutu dari beliau2 itu… huuufff….apakah itu termasuk attitude atau bukan… saya bukan siapa2, hanya seorang yang ga tau banyak tentang NLP, namun prihtin dengan fenomena ini… bukan NLP nya yang salah, NLP itu keren mas, namun bukan merupakan ilmu pamungkas untuk menghadapi hidup… karena sesungguhnya, Alqur’an itu masih banyak rahasianya…. saya hanya ga pengen NLP menjadi korban mereka, dikala ada sebagian orang merasa kecewa melihat fenoma itu dan akan anti dengan NLP=> “NLP bisa membuat orang keblinger” itu sudah beberapa waktu ini saya dengar…

usul saya : bagaima kalau ketika ada training NLP, juga ada pasca training nya karena NLP harus di rasakan…dan di praktekkan…. jadi kayak workshop berkala gitu, dan jangan mahal2, bukan karena ga bisa menghargai ilmu, namun masih banyak lho diantara kita yang mau maju dan berubah = memberikan kesempatan mereka untuk investasi akhirat = dengan punya hubungan yang baik dengan manusia = punya hubungan yang baik dengan Tuhan

thanks ya mas dah dengerin….

BELAJAR NLP SEMENJAK DARI BAYI

Sungguh menarik sekali…

Mengesankan membaca curhat Anda yang mengungkapkan bahwa sesungguhnya manusia sudah mengenal dan mempraktekkan NLP sejak lahir. Luar biasa!

Saya sepakat sekali dengan tanggapan Anda bahwa manusia, termasuk diri kita semua, sebenarnya sudah belajar untuk memiliki perilaku yang ekselen semenjak dari bayi. Melalui proses yang alamiah, seorang bayi belajar mengembangkan perilaku-perilaku yang berguna kelak dalam kehidupannya. Berbagai macam perilaku…, persis seperti yang Anda ceritakan.

Sedihnya, sekalipun pengalaman selalu menjadi guru terbaik. Seringkali yang mengalaminya (kita-kita ini) tidak selalu menjadi murid yang baik.

Lho, apa ya maksudnya kalimat di atas?

Semenjak bayi, kita selalu berusaha menjadi yang ekselen, mendapatkan yang terbaik. Lantas kehidupan ini mengajarkan pada kita bahwa kita “tidak selalu” mendapatkan apa kita inginkan, mendapatkan respon seperti yang kita inginkan. Pada saat itulah, kita sebenarnya sedang mendapatkan guru yang terbaik.

Namun sayangnya, sebagai seorang anak kita belum berhasil mengambil pelajarannya (dengan menjadi murid yang baik), seringkali feedback dari lingkungan (yang menjadi pengalaman kita itu) malah menjadi suatu traumatis, atau menjadi negative installment yang akhirnya menjadi pelajaran yang buruk bagi kita.

Misalkan :

Seorang anak kecil bertemu dengan kecoa yang menarik hatinya, kemudian dipegangnya kecoa itu dengan gagah berani. Dan dicabut sayapnya yang berwarna mengkilat indah itu, walhasil sang kecoa marah, meronta dan meloncat dari tangan si anak, dengan sigapnya ia menggigit bibir anak, sehingga bibirnya melepuh dan selama 2 hari badannya sakit panas.

Well,

Melalui pengalaman itu, Sang Kehidupan yang bijak sedang membentangkan pengalaman belajar pada Sang Anak itu, agar supaya untuk tidak menyakiti binatang atau mahluk hidup lainnya yang lebih kecil.

Namun karena keterbatasan Sang Anak, yang usianya masih kecil, yang nalarnya masih terbatas, yang belum mengetahui reframing J, yang tidak mengetahui bahwa “every behavior has positive intention in particular context”, maka ujaran bentangan ilmu pengetahuan dari Sang Kehidupan tak mampu dikunyahnya.

Alih-alih Sang Anak malah mengembangkan pengetahuan/perilaku baru yang kemudian kita sebut sebagai minor trauma atau mungkin lebih tepat phobia. Si anak justru mengembangkan makna yang negatif, makna yang disempower yang diyakininya bahwa seekor kecoa adalah binatang yang menakutkan dan berbahaya. Yang mampu membuatnya sakit panas 2 hari, yang harus dijauhinya, dan seterusnya. Sejak saat itu hingga usia dewasa, hingga akhir hayatnya, anak ini kelak akan selalu ketakutan secara irasional kalau bertemu dengan kecoa. Bahkan cukup dengan membayangkan kecoa, atau disebut kata “kecoa”, dia bisa menggigil ketakutan, dan seterusnya.

Masya Alloh,

Jadi apa yang dipelajari Sang Anak tidak sama dengan apa yang diajarkan oleh Sang Guru Kehidupan.

Memang pengalaman adalah selalu dapat menjadi guru yang terbaik, namun apakah kita selalu menjadi murid yang baik?

Sungguh beruntung jika dalam perjalanan hidupnya, si anak akan bertemu dengan seorang praktisi NLP, seorang yang sudah pernah belajar Fast Phobia Cure, sudah menguasai collapsing anchor, yang sudah lulus dengan baik di 7 days Licensed NLP Practitioner. Lho lho lho kok jadi promosi…

Pertemuan ini dapat membantunya membebaskan dari cara belajarnya yang salah di waktu kecil. Membebaskannya dari V/K association, sehingga menjadi V/K disassociation. Membebaskannya dari kungkungan pengalaman phobia-nya yang mengurungnya sepanjang hidupnya.

Demikianlah, tentunya dari gambaran di atas, dengan mudah dipahami bahwa seorang anak memang belajar menjadi ekselen, namun seorang anak tidak belajar/mengenal NLP.

Di dalam pemahaman saya, memang belajar NLP adalah belajar kehidupan itu sendiri. Memisahkan NLP dari kehidupan, hanyalah akan menjadikan seorang praktisi sebagai robot teknik. Saya setuju bahwa bayi sudah mulai mengenal dan menggunakan berbagai hal seperti yang juga dibahas dalam NLP. Bahkan seorang bayi melakukannya secara alamiah, luar biasa!

Hanya saja, ada baiknya jika perlu diluruskan di sini. Sekalipun seorang bayi sudah melakukan sesuatu seperti yang dilakukan oleh pembelajar NLP, tidaklah berarti ia sudah belajar NLP. Jika sudah menguasai, tentunya kita tidak perlu lagi berkumpul di sini, membahas dan saling belajar NLP satu sama lain. Ya khan?

Tentunya secara metaforik, kita boleh saja mengatakan bahwa kita sudah mengenal NLP semenjak bayi. It’s no problem with that

NLP aplikasinya sangat luas sekali, kita belajar NLP karena kita tahu di luar sana ada orang lain yang dalam konteks tertentu memiliki perilaku yang lebih ekselen dari kita. Idenya adalah kita belajar NLP karena ingin memperoleh cara / strategi agar memiliki kefektifan / ke-ekselenan yang sama dengan orang lain yang memilikinya. Karena kita tahu bahwa tidak semua hal yang kita pelajari secara alamiah sudah langsung memberikan metode paling efektif / ekselen.

BELAJAR NLP MENJADIKAN SESEORANG BERUBAH

Ratu Pantai Selatan yang baik (dan pastinya juga cantik seperti dalam gambaran kisah-kisah Mataram)…

Persis seperti yang Anda maksudkan, bahwa adalah benar setelah belajar NLP orang akan menjadi berubah. Karena seperti di singgung di atas, NLP mengajarkan seseorang untuk memiliki tools bagi meninjau lagi pengalamannya yang lalu. Jelas baahwa orang ingin belajar NLP karena ia percaya NLP bisa membantunya berubah dengan cara yang lebih mudah.

Saya mencermati di dalam pertanyaan Anda terkandung kata “beberapa orang yang Anda tahu dan kenal”, yang menganggap NLP sebagai senjata pamungkas, membuat mereka seolah menjadi keblinger, merasa paling hebat, paling keren, paling tahu cara hidup, dan kebanyakan mereka adalah trainer, atau merasa diri trainer.  Lantas secara disadari ataupun tidak, mereka menjadi sombong setelah belajar NLP, demikian juga mungkin sudah mengecilkan pihak lain…, bahkan sudah terlampau kebablasen menganggap NLP sebagai senjata pamungkas melebihi Kitab-Kitab Suci Tuntunan Agama…

Wah, saya pasti juga akan ikut bersedih jika berjumpa dengan “beberapa orang itu” seperti yang Anda sebutkan. Sebab, yang saya temui saat belajar NLP dan merasakan hasilnya, kok rasanya jauh dari sifat-sifat yang sedemikian ya? Saya juga kurang jelas dengan siapa “beberapa orang itu” yang Anda maksud. Sebab itu mengandung deletion yang cukup kental, yang tergolong dalam metamodel sebagai Lack Of Referential Index, yakni adanya ketidakjelasan siapa pelaku yang direfer oleh kata “beberapa orang itu”. Sebab saya belum mengenal Anda dan mengetahui di lingkungan mana Anda bergaul.

Saya merasa terhormat karena sudah Anda pilih sebagai tempat curhat, dan juga sekaligus prihatin pada kejadian yang anda maksudkan itu. Well, saya tidak tahu dan tidak ingin mengetahui siapa mereka, dan mohon jangan diulas di sini, cukup kita bersama-sama belajar dari fenomena ini. Anggap saja itu terjadi di negara lain di Republik Democrazy atau Republik Mimpi, supaya kita terjauh dari fitnah dan ghibah. Kata Pak Ustad, tidak baik membicarakan orang lain…, sebab jika itu benar maka kita menjadi ber-ghibah, namun jika kejadian itu tidak benar maka kita terjatuh di lembah fitnah. Lha, jauh lebih baik membicarakan peningkatan diri kita menjadi lebih baik ya…

Wuuuuufh,

Sebagai Pegiat dan Mitra Belajar NLP, sungguh saya merasa ikut bersalah dan prihatin dalam hal ini. Namun melalui masukan yang membangun dari Anda ini, saya sendiri memilih bertekad untuk lebih baik lagi dalam proses belajar mengajar atau dalam bertutur tulis / kata. Terima kasih! Juga saya mewakili untuk memohonkan maaf untuk semuanya, sekaligus kesempatan menjelang Iedul Fitri.

Saya teringat cerita orang-orang yang belajar ilmu beladiri, terkadang jika kurang matang (misal kalau masih tingkat dasar / Sabuk Putih), mungkin tanpa disadari lantas kadang merasa jagoan banget. Apapun / siapapun pengin ditantang, papan tidak bersalah dihancurkan, tembok yang diam pun dipukuli, lihat dada yang bidang lantas rasanya seperti melihat sansak…. Mungkin sama saja demikian kelakuan kami-kami dulu waktu di awal belajar NLP. Srudak-sruduk grudak-gruduk…. Wah jadi ingat kelakuan semacam itu waktu muda dulu. Nyaris saja kami ini ‘lewat’…, untungnya…

Sejauh yang saya mengerti mengenai ilmu seperti karate, yudho, pencaksilat, hampir semuanya sebenarnya mengajarkan attitude sikap keteladanan, membela yang lemah, namun pembelajar ilmu beladiri pemula memang lebih mudah terjatuh pada pesona mendapatkan kesaktiannya, dan lantas agak ‘keblinger’ pengin nyamber kiri kanannya…

Tentunya, hanya karena ada beberapa gelintir orang yang agak “keblinger” belajar beladiri, tidak lantas membuat kita secara sah lantas boleh mengatakan bahwa : beladiri membuat orang keblinger.… Sebab masih jauh lebih banyak orang belajar beladiri yang tidak keblinger.

Fenomena ini juga mirip dengan adanya orang yang belajar ke “Tokoh Agama” karena lebih tertarik untuk mendapatkan kesaktian, bukan mempelajari agama itu sendiri sebagai “jalan” hidup /cara men-sikapi kehidupan.

Tentunya, hanya karena ada beberapa gelintir orang yang keblinger dalam mempelajari agama, tidak lantas membuat kita secara sah boleh mengatakan bahwa : agama membuat orang keblinger.… Sebab masih jauh lebih banyak orang belajar agama yang jauh dari sikap keblinger.

Saya dulu sempat kuliah setahun di Fakultas Teknik UGM, sebelum kemudian pindah ke Fakultas lain di UGM. Lha waktu kuliah di Fakultas Teknik UGM itu, saya ingat betul, ada aja mahasiswa baru yang bangga bukan main sebagai “mahasiswa teknik”, kemudian menjadi sombong atau mungkin agak “keblinger” dan suka mengejek mahasiswa fakultas lain atau yang bukan kuliah bukan di Universitas Negeri… (Saya tahu ini tidak banyak…, tapi ada lho..)

Tentunya, hanya karena ada beberapa gelintir orang yang “keblinger” seperti itu, tidak lantas membuat kita secara sah lantas boleh mengatakan bahwa : Fakultas Teknik UGM membuat orang keblinger.… Sebab masih jauh lebih banyak orang belajar di Fakultas Teknik UGM yang tidak keblinger.

Ketika mendalami LOA, saya juga menemui hal yang sama, banyak yang menuding bahwa LOA menyesatkan, bahkan membuat orang keblinger. Saya tidak tahu, semoga memang yang menuding LOA keblinger itu sudah benar-benar belajar dan mempraktekkan LOA. Semoga bukan hanya dari membaca satu dua buku, menganalisis, melihat ada fenomena orang “keblinger”, lantas LOA yang dipersalahkan.

Dalam hal-hal seperti ini, saya memilih bersikap berbeda, saya memilih tidak mengadili. Yang kemudian saya lakukan adalah memasang sikap ‘penasaran’ dan rasa ‘ingin tahu’. Saya membeli semua buku yang menjadi akar ilmu LOA, bahkan semua DVD dan CD dari Esther Hick (Abraham Teaching). Buku dan DVD Bob Proctor tentang “You were Born Rich” pun saya lahap. Demikian juga buka membeli semua DVD, CD dan buku Michael Losier. Bahkan tidak puas di situ saja, kemudian jauh-jauh pergi ke Canada untuk memastikan belajar secara benar dan langsung dari Michael Losier. Sebab saya meilihat Michael Losier mengaplikasikan imu NLP di dalam mengungkap “rahasia” LoA. Rasa penasaranlah yang membawa saya mengambil sertifikasi sebagai LoA Facilitator, untuk mengetahui bagaimana cara Michael Losier memfasilitasi orang yang belajar mempraktekkan kekuatan LoA dalam kehidupan.

Well, di Canada ternyata saya tidak bertemu dengan seorang Michael Losier yang sombong, yang keblinger… Bahkan jauh dari itu, ia sangat rendah hati, menyenangkan, dicintai semua orang, berkelimpahan, membagi-bagi kebahagiaan dana hadiah kepada semua orang…, secara gratis… tis…

Kemudian secara konsisten saya mulai melatih dalam basis harian, untuk melihat dan mengalami, apakah upaya saya menunjukkan adanya keberhasilan? Belum tentu! Namun jika tidak ada hasil, saya tidak lantas dengan mudah menuduh dan mempersalahkan bahwa LOA tidak works. Saya gunakan segala kemampuan untuk lebih fleksibel, mengadaptasi pendekatan, memperbaiki awareness, konsultasi jarak jauh melalui email dan teleconference dan kemudian memperbaiki lagi pendekatan saya. Demikian seterusnya. Jika yang kita lakukan belum berhasil, dan ada orang lain yang berhasil, maka kita perlu fleksibel memperbaiki pendekatan kita.

Semoga saya dan andapun juga dikarunia kesempatan belajar langsung dengan Esther Hicks, dan guru-guru LOA yang lain. Sejauh yang lihat di DVD, beliau-beliau ini rendah hati dan senang menolong orang. Terlebih tidak membagikan kedengkian dan permusuhan pada pihak lain.

Sekarang, dari mbak Ratu saya mendapati informasi / feedback, bahwa ada juga yang mengatakan bahwa NLP membuat keblinger. Well…, muga-muga dari paparan di atas, kita semua cukup bijaksana untuk menyimpulkan bahwa NLP tidak membuat orang keblinger.

NLP tidak bisa melakukan apa-apa, karena ia bukan benda, bukan mahluk hidup. NLP hanyalah suatu ilmu. Di tangan siapa NLP atau ilmu apapun akan dapat berpotensi menjadikan keblinger, terutama bagi yang mau belajar lewat jalan pintas, belajar hanya untuk diajarkan tanpa dipraktekkan sendiri, dan baru belajar dikit sudah merasa paling mengerti dan mumpuni atau memang tujuan awal belajarnya sudah berbeda. Tidak penting sejak kapan seseorang belajar NLP, atau ilmu apapun. Pertanyaannya adalah sejauh mana ia dapat memanfaatkan NLP menjadi useful bagi sesamanya.

Kembali kita tuliskan, pengalaman selalu adalah guru terbaik, namun apakah kita sudah siap menjadi murid yang baik? Jika ada seseorang keblinger, tidak selalu disebabkan oleh guru atau ilmunya yang memblingerkan, bisa jadi disebabkan oleh sikap / attitude si pembelajar (murid) -nya yang keblinger.

  • Agama tidak membuat keblinger, sekalipun mungkin ada aja yang keblinger saat belajar agama.
  • UGM tidak membuat orang keblinger, sekalipun mungkin ada aja yang keblinger saat kuliah di UGM
  • Beladiri tidak membuat orang keblinger, sekalipun mungkin ada juga yang keblinger setelah belajar beladiri
  • NLP pun demikian… tidak membuat keblinger, sekalipun mungkin ada aja orang yang keblinger setelah belajar NLP.

Semua kembali dengan pertanyaan : dengan siapa ia belajar, bagaimana cara ia belajar, apakah ia memiliki kesiapan belajar, bagaimana niatnya belajar, apakah ia difasilitasi dengan baik saat belajar, dan apakah ia berlatih terus dan menganggap rentang waktu kehidupan ini sebagai kesempatan dan tempat belajar……

ATTITUDE DALAM NLP

Nah dalam tulisan Anda yang amat menarik itu, juga disinggung dan ditanyakan mengenai hubungan NLP dan attitude, sebenarnya apakah kaitan NLP dan attitude?

Luar biasa, Dr. Richard Bandler sewaktu mendefinisikan NLP adalah sebagai berikut: “NLP is an attitude and a methodology that leaves behind a trail of techniques”

Dari definisi itu, dapat kita simpulkan bahwa :

  1. NLP adalah Attitude
  2. NLP adalah Methodology
  3. Sedangkan “Techniques” hanyalah hasil akhir dari dua hal di atas itu. Sayangnya banyak orang lebih terpesona dan fokus belajar teknik-teknik daripada memahfumi dan mengakuisisi attitude maupun methodology ini

Berdasarkan apa yang sudah dipelajari (dan masih banyak yang harus dipelajari dari luasnya dunia pengetahuan mengenai kehidupan itu sendiri, termasuk NLP), maka yang saya pahami adalah, bahwa para co-founder NLP menginginkan kita mengakuisisi suatu core attitude yang bisa disimpulkan dalam 2 kata, yakni “behavior flexibility“. Apakah maksudnya?

Kebanyakan problema kehidupan, dialami karena seseorang terjebak dalam suatu “map yang sempit“, sehingga dirinya TIDAK PUNYA PILIHAN untuk bertindak atau memilih tindakan yang appropriate. Seolah-olah tidak ada pilihan dan hanya ada kemungkinan reaksi saja. Misal :

Contoh 1 :

  • Saat ada tekanan dalam kehidupan berupa stressor, maka orang itu langsung sress atau mungkin fobia, atau malah traumatik. Seolah tidak ada pilihan lain dalam bereaksi menghadapi stressor itu. Intervensi (misal terapi) dalam NLP akan bertujuan membukakan pikiran si klien bahwa ia punya pilihan tindakan lain.
  • Misal, klien dibantu untuk melakukan dissasosiasi (antara stimulus dengan emosinya V/K disassociation), sehingga ia bisa memiliki jarak dari masalahnya. Atau mungkin double disassociation, sehingga jarak lebih jauh dan lebih mudah melepaskan keterikatan respon emosinya. Lantas dari sini, pola stress “dirusak”, dengan cara memutar balik memorinya dengan kecepatan tinggi, sehingga stressor itu tidak lagi memiliki kekuatan negatif pada diri si klien.
  • Nah ketika pola ini sudah melemah, maka tinggal dilakukan tindakan follow up lain, misalkan suatu future pacing untuk memberikan pilihan-pilihan yang lebih berdaya pada diri klien atas “problema” yang pernah dilaminya itu. Boleh juga menggunakan Time Line Therapy ™ by Tad James, atau sugesti hypnotic atau apapun yang baik.
  • Atau kita biarkan saja si klien memilih sendiri respon yang diinginkan, memberikan alam bawah sadarnya membentuk neuro cortical pattern baru, sepanjang kita mengawal agar hasil akhirnya menjadi lebih resourceful.
  • Jika kita amati, deskripsi pada paragraf di atas dapat dikenali sebagai metode atau teknik yang dikenal sebagai “fast phobia cure“. Lha jadi jelas fast phobia cure adalah suatu teknik yang sebenarnya merupakan representasi dari suatu attitude dalam NLP yang namanya behavior flexibility.

Contoh 2 :

  • Saat ada seseorang dikritik, biasanya akan langsung marah atau down. Seolah, kita sebagai manusia tidak punya kapabilitas untuk memiliih reaksi lain saat menghadapi kritik.
  • Jika yang bersangkutan pernah belajar teknik reframing, maka ia akan memiliki lusinan pilihan “makna baru” sebagai hasil melakukan reframing content ataupun context yang dia lakukan.
  • Nah, di sini dapat kita lihat bahwa teknik reframing adalah cara yang diajarkan co-founder NLP untuk menggoyang pikiran si klien agar punya lebih banyak pilihan makna atas suatu peristiwa yang menimpanya, sehingga makna baru ini akan mempengaruhi dan mengubah prilakunya. Di sini, tidak usah dikatakan lagi, sudah langsung terasa bahwa reframing adalah teknik yang merupakan derivasi dari attitude yang berjudul “behavior flexibility”.

Contoh 3 :

  • Seseorang sering terjebak dalam pola buruk, misal jika melamun pasti langsung akan menggigit kuku. Atau jika pikiran lagi kusut dan butuh tenang, langsung terbayang-bayang ingin merokok. Seolah tidak punya pilihan lain. Lagi-lagi bisa disimpukan bahwa; tidak punya pilihan artinya tidak memiliki behavior flexibility. Lha apa yang dilakukan praktisi NLP?
  • Biasanya dalam kasus seperti ini, maka NLP-er akan menggunakan teknik yang dikenal sebagai Swish Pattern, untuk melakukan penggantian pola secara mendadak, dengan mengganti cue picture yang berupa kuku atau rokok dan secara cepat digantikan dengan picture lain yang lebih dikehendaki.
  • Sehingga, saat melihat kuku atau rokok, si klien akan memiliki pilihan baru dalam bertindak, dia tidak lagi terjebak dalam map yang sempit dan tidak punya pilihan.
  • Lagi-lagi kita menemui bahwa teknik yang bernama Swish Pattern ini sebagai manifestasi dari sebuah attitude installment yang berjudul “behavior flexibility“.

Nah jelas sekali dari contoh di atas, “behavior flexibility” adalah attitude kunci yang di-install oleh co-founder NLP dalam semua pelatihan NLP, diwujudkan dalam berbagai teknik yang bernama aneh-aneh itu khan… J.

Nah, lebih jauhnya… di mana kita dapat menemukan jejak yang paling gamblang mengenai behavior flexibility dalam NLP? Saya yakin Anda juga sudah tahu, bahwa “NLP pressuposition“, tak lain dan tak bukan adalah set of attitude itu sendiri. Itu lho yang isinya kalimat-kalimat “The map is not the territory”, dll, silahkan lihat di artikel ini.

Jadi mengukur perubahan attitude pada diri seorang NLP-er tentunya berdasarkan dari sejauh mana presuposisi itu sudah mendarah daging dalam tindakan sehari-hari. Istilah NLP-nya adalah apakah NLP Presuposition itu sudah mengalami mind to muscle (masuk dalam kesadaran otot).

Nah, jadi jika kita menjumpai NLP-er yang attitude-nya menyimpang dari presuposisi, atau attitude kita sendiri menyimpang NLP presuposition, maka artinya dapat kita simpukan sendiri

Jadi sudahkah kita menyiapkan diri jadi murid yang baik? Karena kita akan terus mendapatkan pengalaman yang merupakan guru yang baik…

Jadi kalau setelah belajar NLP, setelah menjadi praktisi, master praktisi, atau menjadi NLP trainer, kok malah tindakannya menunjukkan map yang sempit, maka mungkin ia belajar dengan cara keliru, atau proses belajarnya mungkin kurang sempurna sehingga yang ter-install justru kok malah kebalikan dari visi dan misi sebagai pembelajar NLP itu. Contohnya adalah persis seperti apa yang Anda katakan di atas : menjelek-jelekkan metode lain, menghina trainer lain, mewariskan kebencian, dan sebagainya.

Saya sendiri sering tertegun, betapa di dunia ini ada saja praktisi NLP yang saya temui (diberbagai belahan dunia) yang hobby menjelek-jelekkan Dr Bandler, padahal ia belum pernah ketemu langsung dengannya. Mungkin hanya baca artikel mengenai behavior Dr. Bandler di masa lalunya saja. Well, people are much more than their behavior, demikian kata salah satu presuposition NLP juga.

Beberapa orang yang pernah ketemu Dr Bandler juga ada yang menjelek-jelekkannya. Bahkan 2 bulan lalu saat di Canada menghadiri pelatihan dengan Michael Losier, saya ketemu orang India yang pernah menjadi murid Dr. Bandler. Katanya kepada saya “Kamu nggak usah ikut trainingnya Bandler, buang uang saja… Udah mahal, udah gitu kamu cuman akan mendengar ia ngomong dan ngomong dan ngomong… dan paling banyak ia akan membicarakan pandangannya mengenai Psikolog dan Psikiater…

Wehehehe, yang dia tidak tahu adalah… saya justru mau pergi jauh-jauh ke Orlando khusus untuk mendengarkan Dr Bandler ngomong dan ngomong dan ngomong…, sebab di situlah letak keajaiban metodenya… Lagipula kalau benar Bandler / Grinder memang jelek dan bodoh, kenapa maau mempelajari ilmu yang diciptakan orang bodoh? Tentunya ada yang missing di sini.

Well,

Kabar baiknya, memang di dunia ini kita disuruh belajar terus berkesinabungan. Bahkan, saya melihat masukan dari Anda sebagai input yang membangun dan juga merupakan pembelajaran di atas pembelajaran di atas pembelajaran bagi saya. Sehingga jika orang-orang seperti saya mau belajar lagi, maka saya akan lebih punya behavior flexibility yang lebih baik, alih-alih malah marah atau tersinggung dengan kritik membangun dari Anda.

METHODOLOGY

Selain attitude, hal yang menjadikan saya tertarik belajar NLP karena NLP menjanjikan suatu methodology keilmuan, nah methodology apa ini? Methodology dalam NLP dikenal sebagai modeling, suatu proses yang memungkinkan manusia untuk memodel (menggunakan metodologi tertentu) sehinga dapat menduplikasi keunggulan manusia lain yang lebih ekselen.

Pembahasan mengenai NLP dan metodologi modeling sudah pernah dibahas di artikel yang lain dan akan dibahas di artikel yang lain, jadi tidak perlu kita bentangkan lebih jauh di sini.

NLP CAVEAT

NLP sendiri sebagai disiplin ilmu juga sudah terpecah belah dalam berbagai organisasi afiliasi. Setiap organisasi punya standarnya sendiri, dan satu sama lain tidak saling mengakui. Sulit menilai apa penyebab terpecah belahnya NLP ini, banyak teori dan spekulasi beredar di dunia mengenai hal ini. Saya yakin Anda pasti sudah mendengar hal ini.

Di sini saya tidak ingin ikut mengadili…, terlampau sempit peta yang kita miliki untuk bisa ikut-ikutan mengungkapkan pendapat mana yang benar dan salah. Kita tidak ikut serta dalam masa pertumbuhan dan pengembangan NLP di jaman 1970an.

Jika tertarik silahkan baca di buku luar biasa ini: “The Wild Days’ NLP 1972-1981” tulisan by Terrence L. McClendon, diulas mengenai sejarah NLP di awal mula perkembangan, siapa developer, dan para kontributor awalnya. Ini akan memberikan gambaran bagus pada kita mengapa sekarang NLP terpecah belah menjadi seperti ini.

Sedikit menyinggung hubungan dnegan persoalan di atas, di buku itu RB juga menyatakan “That spirit is basically the belief that anything is possible, and its the human mind that makes it so….. … Grinder and I never accepted what most people assumed about the limits of human beings anyway. We always felt that humans were capable of much more excellence, creativity and success than most people believed..” Di buku ini juga ditekankan dengan sangat kuat bahwa “NLP is NOT the techniques it produced. It is much more about attitude and modelling itself.”

Kembali ke NLP Caveat, sungguh menyedihkan bahwasanya di dunia sekarang NLP -diakui atau tidak- sudah terpecah belah dalam berbagai organisasi atau afiliasi itu. Saya sendiri secara gradual terus belajar dari seluruh organisasi yang ada tanpa mau ikut-ikutan terpecahbelah, karena ini mengkhianati esensi NLP itu sendiri.

Di Indonesia, kami memprakarsai berdirinya portalNLP, sebagai suatu Misi mulia untuk menjadikan NLP bukan sebagai menara gading, dan dapat menjadi contoh hubungan ekologis dari berbagai “aliran” atau organisasi NLP.

Perjalanan panjang menjadi murid. pembelajar, dan praktisi di dunia NLP, membuat saya tersadar untuk lebih menghargai para pemrakarsa NLP di awal dan juga hak intelektual mereka. Semenjak itu saya selalu mencantumkan ™ pada kata NLP, sebagai apresiasi dan respek saya yang tinggi saya pada RB. Saya juga selalu mengingatkan diri saya untuk mencantumkan ™ pada New Code sebagai apresiasi dan respek saya yang tinggi pada John Grinder, mencantumkan ™ pada Time Line Therapy, sebagai apresiasi dan respek saya yang tinggi kepada Tad James, mencantumkan ™ pada Persuasion Engineering sebagai apresiasi dan respek saya yang tinggi pada John LaValle. Dan seterusnya…

Saya tidak akan memaksakan pada siapapun untuk ikut-ikutan mencantumkan ™ pada karya para creator NLP dan kontributornya. Adalah suatu kesadaran dan tergantung kematangan masing-masing untuk melakukan hal semacam ini. Saya juga bukan ingin sok memberikan contoh, saya hanya melakukan apa yang saya yakini baik, yakni menghargai hasil karya seorang anak manusia yang sudah memeras pikiran tenaga dan waktu selama puluhan tahun sehingga menghasilkan maha karya yang dapat membantu manusia mengatasi kesulitan dalam hidup.

Dalam hal sertifikasi, saya memilih berafiliasi dengan The Society Of NLP™, karena saya amat mengapresiasi dan respek saya yang tinggi kepada Dr. Richard Bandler sebagai Key Co-developer NLP. Afiliasi ini bersifat profesional dan dalam hal menjaga update keilmuan. Dalam banyak hal, saya merasa prihatin bahwa para follower yang notabenenya belajar derivasi ilmu NLP yang pastinya berasal dari pasangan RB dan JG, bahkan tidak pernah mengakui ™ yang dibuat oleh RB.

Banyak yang tidak mengerti, bahwa RB tidak lantas meminta kita duit karena kita mengakui ™ nya itu. Kita dibebaskan mentraining NLP dan mengembangkannya, tanpa harus membayarnya sepeserpun. Ia hanya mendorong agar orang menghargai apa yang telah dimulainya puluhan tahun yang lalu karena sudah memeras keringat dan waktu.

Kita hanya wajib membayarnya jika kita minta RB menorehkan tanda tangan dan kata Lisensi pada lulusan practitioner kita. Luar biasa generous-nya sahabat yang satu ini, bandingkan dengan suatu bentuk usaha training franchise yang dipenuhi dengan fee ini itu… Belum mentraining apapun, baru beli bmereknya sajapun sudah harus bayar.

Sekalipun saya memilih The Society Of NLP™, sebagai afiliasi profesional saya, ini tidak lantas menutup afiliasi sosial saya. Kita tidak perlu membatasi diri hanya bergaul dan belajar dari satu disiplin saja. Bukankah dalam NLP kita diajarkan untuk selalu ekologis? Dr. Bandler juga tidak pernah mengajarkan pada kita untuk hanya belajar dari satu sumber, ia mendorong kita untuk terus berlatih, bereksperimen, menggali kekayaan ekselensi lokal untuk dimodel dan dikembangkan.

Hal yang sejalan, kami lakukan pada saat mebangun PortalNLP, yang sejatinya memiliki misi yang mulia. Selain berbagi pengalaman melalui artikel, kami juga ingin mewadahi berkumpulnya para praktisi dan pegiat NLP, kami mendorong agar seluruh kontributor dan para pembaca untuk terus bersedia menjaga ekologi satu sama lain.

PASCA TRAINING

Usulan Anda sungguh baik, mengenai pasca training itu… Saya menerima itu sebagai sebuah solusi kongkrit.

Selama ini tujuan kami menciptakan blog ini ataupun media online saya yang lain, adalah agar menjadi media penghubung untuk belajar, menjadi ajang follow up bagi rekan-rekan yang pernah belajar NLP, baik dari saya maupun kawan lain…

Selain itu, baru pada tahap persiapan, kami juga sedang membangun milist / forum online belajarnlp@yahoogroups.com, namun belum kami buka ke publik. Karena sedang membuat mekanisme yang cocok dan momentum yang tepat. Milis ini mungkin hanya akan dipergunakan untuk mewadahi alumni sebagai follow up pasca training.

KESIMPULAN

Saya sepakat dengan Anda, bahwa NLP bukan senjata pamungkas, bahkan NLP-pun bukan “senjata” sama sekali, dan bukan pula pengganti agama dari Tuhan.

NLP adalah suatu proses ikhtiar panjang dari manusia-manusia (yang dirintis RB dan JG) untuk menjelajahi wilayah dan potensi benda luar biasa ciptaan Alloh SWT yang namanya otak yang di dalamnya berisi pikiran. Salah satu bentuk syukur terbaik yang dapat kita lakukan pada Tuhan adalah dengan cara mengapresiasi karuniaNya, mengekplorasi dan mempelajari karuniaNya, dan secara terus menerus menggali potensi yang masih tersembunyi di dalamnya.

Ikhtiar ini juga sudah dilakukan oleh disiplin-disiplin lain yang menjelajahi dunia pikiran, kejiwaan manuia, seperti psikologi, psikiater, filsafat, biologi, dan lainnya. Berbagai sistem lain diluar NLP juga sangat baik dalam menemukan permasalahan, tapi tidak memberikan tools yang dapat digunakan secara mandiri (tidak tergantung orang lain : terapis, coach, dll), tanpa rasa sakit, dan menjanjikan perubahan yang lebih cepat dengan cara yang menyenangkan.

Demikian Mbak Ratu Pantai Selatan, saya sudah memenuhi janji saya untuk menjawab curhat Anda. Terima kasih atas kepercayaan yang Anda berikan pada saya sebagai tempat bercurhat. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dan pekajaran dengan cara menjadi murid yang baik dalam belajar NLP.

Jika Anda orang Yogyakarta, selama lebaran saya akan berada di sana, silahkan jika ingin bertemu dan berdiskusi. Terima kasih, senang telah berkenalan dengan Anda.

Salam sukses bagi para pembelajar dan penjaga ekologis…

Comments

  1. says

    Assalamu’alaikum…

    Semoga pendapat saya menyapa Pak Ronny dan Pembaca budiman selalu dalam Rahmat dan Hidayah Allah…
    Terima kasih untuk Mbak Ratu Pantai Selatan, kehadiran anda menambah wawasan baru mengenai NLP, kepada kita semua melalui Pak Ronny.
    Hanya kata syukur yang pantas hamba panjatkan selalu kepada Mu ya Rabb. hari ini melalui hamba Mu, hamba mengenal lebih dalam Ilmu Mu. Pak Ronny terima kasih, penjelasan kali ini, sangat berbekas dan bermakna bagi saya tentang Bahavior Flexibilty. Ternyata jika ada permasahalan belum bisa saya lewati, itu karena flexiblenya belum jalan.
    dan Pastinya artikel ini menjadi Pengingat kepada saya. Agar tidak menjadi makhluk yang sombong setelah belajar NLP.
    Izinkan saya syaring tentang perubahan MAP saya setlah mengikuti kelas NLP hingga master. dulu saya menganggap NLP itu tehnik-tehniknya luar biasa. Bahkan tujuan ikut malahan ingin memperbanyak Tehnik. eh ternyata, setelah mengikuti kelas Pract, saya mendapatkan sebuah ilmu yang luar biasa. PEngajaran akan makna hidup bermu’amalah sesama makhluk. Bagaiamna memanusiakan manusia. Itulah pengalaman sungguh luar biasa bagi saya. mohon doanya pak Ronny, NLP Presuposition bisa menjadi Mind to Muscle bagi saya…
    Terima kasih Para Guru NLP, terutama Guru Aziz yang mengajari saya NLP.

  2. Syahril Syam says

    Dalam agama, praktek ritual ibadah merupakan tools untuk melakukan behavior flexibility. Saya tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa NLP adalah agama, tetapi sebagai seorang manusia kita harus menggali kebijaksanaan dari berbagai sumber termasuk NLP ini, seperti kata Ali bin Abu Thalib: “Jangan lihat siapa yang berbicara tapi lihat apa yang dikatakannya”. Selamat mas Ronny, menurut saya Anda adalah seorang penggiat NLP yang holistik

  3. says

    Ass wr wb

    Subhanallah …tulisan mas Ronny banyak memberi pencerahan pada saya tentang NLP. Saya baru kenal NLP di internet ini. Berbagai tulisan tentang NLP di blog mas Ronny, Portal NLP dan Pembelajar .com hampir semua saya baca. Saya belum pernah ikut kursus atau pelatihan.

    Satu hal yang saya pahami dari membaca berbagai artikel tentang NLP, adalah bahwa NLP atau Neuro Linguistic Programing adalah ilmu atau mentode meng-utak -atik fikiran (otak ) manusia dengan kata-kata. Saya fikir metode ini sudah ada sejak zaman dahulu kala. Sebagaimana Rondha Byrne menemukan rahasia tentang Law of Attraction, menurut saya Richard Blander dan John Grinder adalah yang menemukan dan mengembangkan metode NLP ini untuk pertama kali. Karena luasnya cakupan NLP akhirnya berkembang jadi berbagai aliran.Mohon maaf mas Ronny saya mohon diluruskan jika pemahaman saya ini kurang tepat….maklum baru belajar.

    Mba Ratu Pantai Selatan mengatakan NLP bukan segala galanya , masih banyak hal dalam Qur’an yang belum digali dan kita pahami. Saya memang kepikiran NLP superposisi kok mirip dengan kalimat (ayat) dalam Qur’an yang dapat membentuk pola pikir dan sikap seseorang. Dibawah pengaruh lantunan ayat Qur’an seseorang bisa menangis , histeris bahkan dalam beberapa tulisan yang saya baca ada yang sampai pinsan dan meninggal. Al-Qur’an yang dibaca dalam sholat yang benar dan khusuk, dapat membentuk pola fikir dan sikap hidup yang tangguh…ini sudah banyak terbukti. Sekali lagi saya mohon arahan mas Ronny , mohon koreksi jika pendapat saya kurang tepat.

    Saat ini saya sedang mengembangkan metode tadabbur Qur’an, meng-utak atik fikiran dan perasaan manusia dengan lantunan ayat Qur’an, dibaca dengan tartil dan betul dengan irama yang tepat, diterjemahkan dalam bahasa indonesia yang disampaikan secara puitis, ditadabburi dengan susunan kalimat dan intonasi suara yg menyentuh kalbu. Dalam beberapa kasus saya dapati …ada beberapa jama’ah yang sampai menangis dan histeris. Karena ayat Qur’an langsung menghunjam unconsius mindnya, tanpa perlawanan berarti dari consius mind.

    Kebanyakan orang dewasa ini berusaha memahami Qur’an dengan kajian, analisa melalui consius mind-nya. di analisa kenapa begini dan begitu…jika sudah dipahami baru masuk kehati. Dengan tadabbur Qur’an consius mind disuruh istirahat dulu….selanjutnya dengan irama dan latunan ayat Qur’an yang syahdu dan disampaikan dengan intonasi dan bahasa tubuh yang mengena , Qur’an langsung menghunjam unconsius mind…hasilnya yaa… banyak yang histeris.Qur’an menghunjam kedalam kalbu melalui otak kanan , bukan melalui otak kiri sebagaimana yang banyak kita temui pada ceramah atau kajian Qur’an secara umum.

    Soal menangis dan histeris tatkala dibacakan Qur’an , sudah dijelaskan dalam surat Al Israk ayat 107-109.Sekali lagi saya mohon koreksi mas Ronny …maklum saya kenal NLP hanya dari tulisan pada beberapa blog .

    Terima kasih

  4. says

    Mas Rahmadsyah yang baik…

    Semoga Mas yang budiman juga selalu dalam Rahmat dan Hidayah Allah… Amien

    Ya mas, behavior fleksibilitas memang kuncinya. Contoh lain ada di artikel saya di portalNLP yang terbaru.

    Semoga membantu

    Salam

  5. says

    Halo Mas Syahril Syam

    Terima kasih tambahan ulasannya yanag mengait dnegan praktek ritual ibadah.

    Rupanya hal itu juga merupakan tools untuk melakukan behavior flexibility.

    Thanks Mas,
    BTW, kapan buku ke dua akan terbit?

    Wassalam

  6. says

    Dear Mas Fadhil.ZA,

    Luar biasa, kegiatan tadabbur Qur’an yang Anda lakukan itu.
    Wah… mungkin bisa diceritakan di sini … untuk memperkaya kita semua.

    Ohya,
    Benar sekali, seperti yang Anda ungkapkan, kegiatan mengutak-atik potensi otak manusia sudah ada dari jaman dahulu kala.

    Sebagian dari berbagai gejala paranormal di masa lalu juga ditengarai bukan selalu merupakan fenomena supranatural riil, namun lebih merupakan unexplainable mind activity. Seperti trance, dll.

    Di zaman yang lebih modern kita mengenal animal magnetism, hypnosis, mind power, psycho-cybernetic, Silva Mind, Sedona Method, dan seterusnya.

    Namun dari yang semua ada, belum ada yang sekomprehensif NLP, yang memungkinkan kita memodel (meniru, menduplikasi) berbagai metode yang lain itu. NLP itu mirip ilmu fotocopy…

    Neuro Linguistic Programming bukan sekedar metode meng-utak -atik fikiran (otak ) manusia dengan kata-kata. Lebih dari kata-kata, kita juga menggunakan body language seperti anchor kinestetik, kita juga gunakan metode sejenis visualisasi dan seterusnya masih banyak lagi.

    Dalam konteks dengan yang Anda paparkan, NLP akan dapat membantu Anda membuat “proses” pengKajian Al Qur’an itu menjadi lebih asyik. Prosesnya lho… (Sebab Al Qur’an dan kandungannya sudah pasati jauh lebih baik dari NLP itu sendiri).

    Misal, bagaimana kita mengintonasikannya (dengan embedded command), pada bagian mana kalimat yang ditekankan dengan bahasa tubuh tertentu (dengan analog marking), dan sebagainya.

    BTW,
    Satu hal catatan penting yang ingin saya paparkan adalah membedakan gejala (efek visual yang terlihat) dan hasil riilnya.

    Pembelajar NLP atau hypnosis awal, biasanya amat takjub melihat gejala yang kadang muncul dalam proses terapi, misalkan munculnya tangis, histeris, pingsan, teriak-teriak dan lainnya.

    Di dalam pengalaman saya, hal-hal seperti itu TIDAK SELALU merupakan fenomena yang useful dan memberi hasil riil positif.

    Yang perlu kita perhatikan adalah BAGAIMANA hasil setelahnnya, APAKAH menunjukkan perubahan riil yang berguna, dan baik seperti tujuan..

    Memang tangis dan sebagainya kadang merupakan indikator terjadinya proses perubahan yang positif, namun tidak selalu. Bisa saja, orang hanya terpicu emosinya sesaat karena adanya anchor yang pas.

    Hal terakhir.
    Paparan Anda mengenai metode mengKaji Al Qur’an agar ke alam bawah sadar secara langsung dan tidak melalui analisis.

    Saya amat sangat setuju bahwa hal itu akan memberikan dampak yang luar biasa.

    Dengan sedikit catatan, alangkah baiknya jika kita tidak lantas menafikkan penKajian melalui analisis yang juga perlu kita terima sebagai pembelajaran juga.

    Jadi saya yakin bahwa kedua metode ini kalau disandingkan akan menghasilkan pengaruh amat baik yang luar biasa.

    Mungkin Anda bisa kaitkan ini dengan tulisan di blog ini yakni Blitz Reading.

    Pembelajaran consciuos dan unconscious masing masing memiliki tempatnya tersendiri dan memberikan sumbangan yang berguna dan saling melengkapi bagi kehidupan.

    Hanya saja, seperti yang Anda katakan…, saat ini pembelajaran yang conscious seolah mendapat tempat yang lebih tinggi dan luas dari pada pembelajaran yang melibatkan alam bawah sadar.

    Dunia modern dan “kajian agama” terkadang menempatkan hal-hal unconscious sebagai sesuatu yang samar-samar, yang di cap kurang ilmiah dan sebagainya.

    Jadi saya mendukung Anda. Monggo di eksplorasi metode itu…

    Semoga menjadi kebaikan bagi seluruh ummat! Amien

  7. says

    Ass Wr wb
    Trimakasih mas Ronny atas penjelasannya, saya jadi tambah semangat untuk mendalami NLP. Memang kondisi menangis dan histeris tidak mutlak menjadi tolok ukur, yang kita kehendaki adalah hasil akhirnya yang permanen. Saya ingat waktu dulu ikut training ESQ bapak Ary Ginanjar saya menangis selama training dua hari , namun satu minggu kemudia efeknya mulai luntur.

    Setelah saya amati lebih lanjut, sebenarnya sholat juga dapat membentuk state dan sikap hidup. Namun kebanyakan kita terutama bangsa indonesia ini tidak mengerti apa yang diucapkan dalam sholat tersebut…sungguh sayang. Jika sholat dilakukan dengan benar dan khusuk maka antara ucapan, fikiran dan perasaan (hati)seharus searah (menyatu). Kebanyakan orang melakukan sholat antara ucapan, fikiran dan hatinya tidak solid, berjalan sendiri sendiri,mulutnya mengucapkan A, fikirannya membayangkan B dan hatinya merasakan C, makanya tidak menimbulkan bekas pada pola fikir dan sikapnya. Saya rasa sholat yang benar dan khusuk juga ada kaitannya dengan ilmu NLP. Kalau ia….wah NLP jadi semakin menarik nih. Kalau mas Ronny berkenan silahkan mampir ke pondok saya disana ada rekaman video tadabbur Qur’an yang saya laksanakan dibeberapa tempat. Saya juga berminat menulis tentang kaitan NLP dengan tadabbur Qur’an dan Sholat khusuk. Untuk hal yang berkaitan dengan NLP tentu saya mengharapkan bimbingan dari mas Ronny.

    Salam hangat buas mas Ronny.

  8. arlin teguh says

    Hidup memang memberikan pelajaran bagi kita, namun hasil dari pelajaran yang kita terima tergantung proses filterisasi di dalam diri kita. Jika filter kita adalah positif maka jadilah kita orang positif dan jika tidak…ya……

    Thanks banget mas ronny, ini jadi bagian dari muhasabah saya dengan pemahaman NLP yang saya miliki, mudah2an saya tidak termasuk ke dalam “beberapa orang” yang mbak Ratu sampaikan……..

  9. says

    Wa ‘alikum Salaam Wr wb

    Terima kasih juga Mas Fadhil,
    Saya senang jika kita bisa ber-Sinergy alam hal kebaikan seperti itu, Fastabiqul Khairaat.

    Benar sekali, kita harus waspada, setiap hari kita mayoritas berada di state apa?

    Semakin banyak waktu yang kita habiskan, dan semakin sering frekuensi kita berada di suatu state, maka state itu akan menjadi state yang paling mudah kita masuki, dan akan membentuk diri kita.

    Nah, seperti kata njenengan, dengan mengerjakan sholat 5 waktu dan sering sholat sunat, maka kita juga men-training mind kita berada di state khusyuk dan vertikal berkali-kali. Luar biasa khan… Tentunya tidak asal sholat sasja, naun benar-benar berusaha untuk masuk dalam state yang fully associated.

    BTW, Mas tinggal dimana? Jika saya lewat, saya akan mampir…

    Salam hangat buat mas dan keluarga

  10. says

    Uda Arlin,

    Tepat sekali! Satuju!
    Nanti hasil Muhasabah-nya diceritakan di sini.

    Ohya, saya tunggu kehadirannya di 25-31. Pasti sudah diputuskan datang khan?
    :-)

  11. says

    Ass wr wb

    Terima kasih mas Ronny atas tanggapannya, saya baru mengenal NLP sebulan ini dari blog mas Ronny, pembelajar .com dan portal NLP. Saya merasa bahwa antara metode tadabbur Qur’an serta sholat yang khusuk dan benar dengan ilmu NLP masih ada kaitannya. Apalagi setelah membaca tulisan kang Asep, mas Tedy dan Yan Nurindra tentang NLP & Spiritual di portal NLP.

    Saat ini saya mencoba menulis hubungan antara tadabbur Qur’an , sholat khusuk dan NLP , insya Allah dalam beberapa hari ini sudah jadi dan saya publish di blog saya Fadhilza.com. Saya harap mas Ronny bisa memberi koreksi kalau pemahaman saya tentang NLPnya belum betul. Maklum baru belajar.

    Oh ya sebenarnya kalau sempat saya ingin ngobrol lebih banyak dengan mas Ronny ,sayang rumah saya jauh dari Surabaya, saya tinggal di komplek perumahan Bintara 3 kel Bintara Jaya Bekasi Barat. Namun demikian , untuk perkenalan saya rasa mas Ronny bisa mampir ke blog saya di Fadhilza.com

    Kalau saya amati dari tulisan yang ada di Portal NLP, cakupan NLP ini sangat luas sekali , seluas cakupan yang bisa ditelusuri dan dicapai oleh alam fikiran manusia…..ini baru pemahaman saya aja hlo. Kalau benar wah sungguh dahsyat.

    Salam hangat juga buat mas dan keluarga.

  12. says

    ass mas ronny….
    thanks banget udah mau melahirkan tulisan amazing diatas….
    sowry saya baru baca, karena seminggu ga online…
    wah makasih banget kalo dikasih kesempatan buat ketemu dan bertukar pikiran…(semoga lom telat)
    085878391023
    087861287272
    02749326949
    Y!M : iwen_thinktank

    see you then..
    wass….

  13. says

    Halo Mbak Ratu,

    Semoga bermanfaat…, sayang sekali saya sudah kembali ke Jakarta nih…

    Mungkin lain kali kita dapat bertemu ya…

    Semoga sukses selalu dan selalu “bersiap menjadi murid yang baik” di manapun…

  14. says

    Sip Ratu…,

    Nah, kita bisa mulai dengan cara memikirkan, merenungkan, melihat kembali, mendiskusikan dalam hati dan merasakan kembali… :
    Apa pelajaran yang saya peroleh dari peristiwa yang saya alami di atas? Dengan demikian kita enjadi murid yang baik dari kehidupan.

    NLP mengajarkan kita menjadi subjek, bukan sebagai objek kehidupan. Jadi apapun yang terjadi pada kita, alangkah baiknya jika kita ambil tanggung jawab bahwa kitalah yang perlu mengolah kembali di dalam kepala kita agar menjadi pengalaman yang berharga, pelajaran yang bernilai bagi kita…

    Mungkin pada suatu titik kita sempat berpikir, menyalahkan sekitar, menyalahkan lingkungan yang mungkin kita anggap “tidak adil”, atau “tidak baik” pada kita.

    Namun, kita perlu ingat.., secara subjektif di map setiap orang…, mereka merasa melakukan hal yang terbaik pada saat itu. nah yang penting sekarang ….mampukah kita melihat/merasa/mencerna/mengatakan pada diri kita bahwa hal itu juga sebagai pengalaman tidak baik itu “sebenarnya juga berguna” bagi kita? Dengan cara mengambil pelajarannya…

    Bagaimana cara mengambil pelajarannya?
    Dengan cara memperluas map kita, meng-overlap semua map orang lain yang terlibat dalam masalah dengan kita…
    Jadilah kita sebagai manusia yang memiliki map paling luas dan paling lengkap…

    Dengan tulus saya katakan, bahwa sayapun mengambil pelajaran dari curhat Anda di sini.

    Lha kalau orang lain saja mengambil pelajaran…, maka seberapa banyak diri kita akan mengambil pelajaran pula?

  15. seto says

    gimana ya, kalo menurutku si bukannya bayi yang mengenal nlp.tapi nlp yang mempelajari ttg struktur pengalaman manusia shg semua pengalaman manusia pada akhirnya bisa dihubungkan dg nlp.
    kemudian tdk orang yang baik tidak akan berkata: “ini lho aku, orang baik.” disini saya jg bisa menilai ratu, spt ratu menilai para trainer itu. surat ratu menurut saya secara tersirat berkata:”mereka tidak baik. karena ratu tidak berbuat spt mereka berarti ratu baik.” Jika, background tulisan ini warnanya hitam apakah kita bisa melihat tulisan dari tinta hitam ini?” seperti juga kebaikan , tidak bisa dilihat jika tidak ada keburukan. keburukan harus tetap ada demi kebaikan sendiri agar bisa dirasakan sebagai sebuah pengalaman. biarlah yang buruk tetep ada demi kebaikan sendiri. sekarang, ratu adalah yang mana dalam keh ini?
    bukannya membela tapi sudut pandang lain

  16. ratu pantaiselatan says

    hii…mas seto dan temen-temen…salam kenal….
    ya jelas saya ga bermaksud bilang “saya lebih baik” dong..hehehe….
    kalopun saya curhat tentang hal itu, tidak lebih karena saya peduli aja terhadap reaksi dan minta pendapat pada orang yang lebih wawasannya….sebenarnya apa sih NLP itu? dan gimana menggunakannya…semata
    jadi bukan lebih kepada reaksi saya terhadap reaksi mereka….
    saya sih fine2 saja, juga tidak merasa dirugikan karena reaksi mereka,…hehehe
    karena saya ga tahu banyak tentang NLP, dari pada saya menerima informasi yang simpang siur maka, saya putuskan untuk bertanya pada kang mas Ronny….
    karena saya memperhatikan beliau cukup hebat dalam NLP…
    kalaupun terlihat agak emosional dalam menyampaikannya…ya maaf temen-temen…secara saya masih muda..hihihi….(november besok 36,masih muda?? hehehe)dan saya wanita (60:40__feel:mind)…hehe…
    okay, lam kenal semua dan thanks so much…

  17. seto says

    lam kenal juga….
    maap kl g sopan. dateng2 langsung komen. darah muda jg si. bulan ini 26, tp wakt kan hanya ilusi(kyny g byk yg sepikiran ni!). ak langsung kesengsem pas tau nlp. pengen banget belajar lebih jauh. sumber daya lum cukup ni, wong ndeso buanget lg-listrik msh sering mati, dr kota 30mnt- mkny cr di internet yang gratisan. untung mas rony baek. matur nuwun semuanya….

  18. Adi says

    Mas Ronny,
    saya baca artikel anda disela-sela persiapan saya untuk menjalani ujian 7 days Licensed NLP Practitioner.
    Tiada kata yang tepat selain Luar biasa…atas artikel anda.Pencerahan dan sekaligus penajaman pemahaman saya mengenai NLP…tentunya sekaligus sebagai chunking buat saya…hehehe.

  19. says

    Halo Mas Adi.

    Senang berkenalan dengan Anda,
    Seorang pembelajar sejati dan ilmunya tinggi namun rendah hati…

    Mari bergandengan tangan Mas…
    Belajar dari Ibu Pertiwi dan Bapa Semesta yang luar biasa, keduanya adalah karunia Tuhan YME untuk kita-kita ini

  20. says

    Assalamu’alaikum Mas Ronny

    Mas, membaca tulisan ini benar-benar membuat saya merasa FULL LOADED CAPACITY !

    Sya baca tadi malem, tapi ga sanggup tuk buat comment
    baru bisa buat comment sore ini

    mungkin setelah pengendapan bacaan saya ini, kali ya ?, baru saya bisa nulis lagi

    MUANTAFFF Mas !

    I’m ready to become AMAZING STUDENT from experience & the universe, beginning NOOOW . . . .

  21. Sunarko says

    Ass.wr.wb
    Mas Ronny, salam kenal.Saya belum pernah pelatihan NLP, baru dua buku tentang NLP yang saya baca yaitu Trilogi NLP dari RH.Wiwoho(belum tamat tapinya….) Jadi nyambung jugalah dikit-dikit tentang reframing, anchor, behavior flexibility.Saya juga baru seminggu ini mulai rajin baca2 artikel NLP di http://www.ronnyfr.com, belajarnlp.com.Ada keinginan yang kuat untuk ikut pelatihan NLP Practitioner, kenapa ingin ikut ?? Yaa saya ingin seperti yang mas Ronny katakan supaya punya pikiran atau perilaku yang lebih fleksibel.Saya salut sekali dengan tanggapan mas Ronny terhadap komentar mbak Ratu Pantai Selatan, saya melihat cakupan pemikiran yang sangat luas dan kita yang membaca tanggapan mas Roony tsb jadi dapat masukan yang sangat bermanfaat.Doakan mas, mudah2an Allah memberikan saya jalan bertemu mas Ronny dalam pelatihan NLP practitioner.Salam hangat.Wassalam …

  22. says

    Mas Sunarko,

    Terima kasih sudah mampir, dan menyempatkan mengisi tanggapan.

    Luar biasa, Anda bener-bener pembekajar sejati, semua bahan bacaan dilalap…

    Saya tunggu untuk kita ketemu di ruang pelatihan, pasti banyak yang bisa keita pelajari bersama dalam hidup ini…

    Salam hangat juga!

  23. Junus Baan says

    Mas Ronny, mbak Ratu dan kawan-kawan semua,

    Murid yang baik …
    Guru yang baik …
    Semuanya, semata-mata kebaikan yang menyatu dan mewujud.

    Terima kasih kepada semua pembawa obor dan sang rembulan di waktu malam, terima kasih kepada semua penunjuk jalan dan sang mentari di waktu siang; karena kawan-kawan telah ikut memandu sang pengembara.

    Salam hangat !

  24. andri anto says

    Subhanaallah..
    Hati saya benar2 tersentuh dan larut dalam pembahasan mengenai nlp. benar2 sebuah forum yg menyejukkan dan mengajari makna kehidupan.
    dgn nlp tentunya.

  25. says

    Pak Fadlil ZA,

    Saya tertarik dengan Video Tadabur Al’quran yang bapak koleksi. apakah bisa share /duplicate sebagai da’wah ke saya.

    Terima Kasih
    Erry Dharmawan
    Jatiasih, Bekasi

  26. khrisna says

    Sy seorang meditator, ketika membaca artikel anda tentang NLP sy berkesimpulan bahwa NLP adl cara untuk membuka alam bawah sadar (harddisck dlm otak) seseorang. Seperti proses meditasi ketika telah memasuki alam bawah sadar, seseorang akan mampu bahkan sampai melakukan perjalanan ke alam2 halus-alam dewa. tanpa melakukan rogoh sukma. Juga menjadikan diri kita memiliki kemampuan/kesaktian dgn menggunakan pribadi lain. karena yg bekerja disitu adl Roh yg merupakan percikan dr pribadi Tuhan. yg mana roh kita dgn roh Tuhan dikoneksikan oleh Godspot yg tertanam dlm alam bawah sadar kita. yg terpenting disini adl menggunakan akal dan budi.

Trackbacks

Leave a Reply